Monday, August 30, 2010

Konfrontasi Malaysia-Indonesia (GANJANG MALINGSIA)

“Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!”

Hari itu Ir. Soekarno berapi-api sambil mengacungkan tangannya di mimbar terhormat. Bukan karena kebudayaan kita dicuri atau TKW kita disiksa majikannya di Kuala Lumpur, tapi karena terjadi konfrontasi terbesar antara Malaysia-Indonesia di tahun 1961-1966. Seluruh dunia menyaksikan sebuah konfrontasi terbesar diantara dua Negara serumpun, bagaimana dua Negara yang baru saja bebas dari kolonialisme memperebutkan bekas tanah koloni dari Inggris diujung pulau Borneo (Kalimantan)?.

Kata-kata “Ganjang Malaysia!” menjadi terkenal sehingga seorang penulis buku terkenal Will Fowler mengabadikan dalam bukunya dengan masih memakai ejaan Soekarno. Kemarahan Soekarno disulut oleh tindakan profokatif dari Federasi Tanah Melayu yang menginginkan (atas ide dan persetujuaan Inggris) menggabungkan Federasi Tanah Melayu, Singapura, Brunei, Serawak dan Sabah (Borneo Utara).

Tidak hanya itu, setelah terjadi demonstrasi anti Indonesia di Kuala Lumpur, para demonstran menyerbu kedubes Indonesia dan menginjak-injak lambang garuda pancasila dan foto presiden Soekarno. Meledaklah kemarahan Soekarno apalagi setelah mengetahui kalau perdana menteri Tuanku Abdurahman Malaysia disuruh menginjak lambang Negara Indonesia tersebut oleh para demonstran.

Presiden Soekarno langsung membentuk dan menyatakan DWIKORA sebagai pengobar untuk “mengganjang Malaysia”. Dikarenakan ini bukanlah perang terbuka atau perang antara pasukan regular masing-masing Negara, maka perseturuan dua Negara tetangga ini tidak disebut sebagai perang Malaysia-Indonesia tapi lebih dikenal konfrontasi Malaysia-Indonesia. Awalnya Soekarno tidak menginginkan terjadi konfrontasi dan TUanku Abdurahman pun berpikiran seperti itu. Tapi karena atas saran dan perintah dari Inggris, maka Pemerintah Malaysia melanggar perjanjian Manila yang menyatakan akan diadakan Referendum oleh PBB (UN). Mengetahui hal itu maka pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan langsung menindaknya.

Pemerintah Filipina yang juga mengklaim Sabah (Borneo Utara) tidak mengirimkan tentaranya atas kejadian pelanggaran perjanjian tersebut. Tapi Presiden Soekarno yang terlanjur sudah marah atas perlakuan Malaysia dan Inggris dengan Persemakmurannya yang menginjak-injak perjanjian tersebut, menyatakan konfrontasi. Presiden Soekarno mengatakan kalau Malaysia adalah boneka Inggris dan mengganggu kemerdekaan dan stabilitas Indonesia kedepannya.

Indonesia banyak melakukan propaganda untuk menakuti dan menebarkan teror bagi Persemakmuran. Seperti menggelar penyebaran selebaran dari udara oleh Tu-16 kedaerah Serawak dan menebarkan ketakutan kedalam wilayah Australia dengan menjatuhkan perlengkapan tentara di tengah daratannya. Persemakmuran dan Inggris tidak tinggal diam, mereka juga melakukan Operasi Claret yang dilakukan oleh SAS & SAS-R.

Operasi Claret adalah operasi dimana pasukan khusus inggris dan Australia menyusup kedaerah Indonesia di Klaimantan Timur. Padahal mereka berkomitmen hanya untuk bertahan tanpa menyerang kedaerah Indonesia. Hal ini diakui oleh Australia pada tahun 1996 atas terjadinya operasi Claret.

Selain menggelar pasukan khusus SAS (Inggris) & SAS-R (Australia), Persemakmuran juga mengirim SAS Slandia Baru, Gurkah (Pasukan Khusus dari Nepal yang dilatih oleh Kerajaan Inggris) dan pasukan dari daerah kolonialisme kerajaan Inggris lainnya. Indonesia mengerahkan RPKAD (KOPASSUS sekarang), pasukan SIliwangi dan KKO (Marinir sekarang).

Indonesia menyerang dari dua arah, yaitu dari Kalimantan Barat yang menyerang Serawak dan dari Kalimantan Timur yang menyerang Sabah. Sementara KKO dipersiapkan untuk menyerang pulau Sebatik bagian utara yang dikuasai Persemakmuran. Banyak terjadi bentrokan antara RPKAD dan SAS, sehingga menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Akibat dari agresifnya serangan Indonesia kedaerah Serawak dan Sabah maka penduduk setempat jadi tidak bersimpati kepada Indonesia.

Melihat dari alutsista Indonesia saat itu yang memiliki perlengkapan AURI (TNI-AU sekarang) yang memiliki perlengkapan yang memadai, sudah dipastikan pasti Indonesia akan menang dalam konfrontasi tersebut. Juga ALRI (TNI-AL sekarang) memiliki beberapa kapal laut yang modern dan terbaru sehingga menebarkan ketakutan kepada Malaysia dan Persemakmuran. Tapi hal itu tidak terjadi juga dikarenakan Indonesia berkomitmen untuk tidak menggelar pasukan regulernya lebih besar. Dan juga tidak ada gerakan profokatif lagi dari Malaysia dan Persemakmuran.

Akhir dari konfrontasi ini adalah penarikan mundur Indonesia dari Serawak dan Sabah. Dikarenakan 1966 Indonesia mengalami G30S-PKI yang mengakibatkan Presiden Soekarno turun dari jabatannya dan diganti Jenderal Soeharto yang langsung menghentikan konfrontasi dan menyetujui perjanjian Bangkok. Indonesia & Malaysia mengalami kerugian yang besar dari harta dan jiwa. Jika terjadi perang yang lebih besar dan terbuka maka tidak akan terelakkan lagi kerugiaan yang lebih besar dikedua belah pihak.

Note :

1. Mapalindo (Malaysia-Pilifina-Indonesia) adalah jargon yang digembar-gemborkan Inggris sebagai penyudut Pemerintahan Soekarno. Inggris menuduh Soekarno ingin menciptakan sebuah Negara yang melingkupi Malaysia-Pilifina-Indonesia yang disingkat MAPALINDO. Sesuai dengan literature yang ada Soekarno tidak ada rencana untuk melakukan hal tersebut, hal itu hanya tuduhan tak berdasar dari Inggris. Malahan Soekarno memiliki komitmen tidak mengakui wilayah Timor Leste yang pada saat itu masih daerah jajahan Portugal. Soekarno hanya menginginkan persatuan Papua dan Borneo Utara dengan Indonesia.

2. TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara) Pasukan yang dikatakan berhaluan komunis dan melakukan pemberontakan didaerah kesultanan Brunei dan menginginkan kemerdekaan daerah Borneo Utara. TNKU dinyatakan dibantu oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan pemberontakan diwilayah Borneo Utara. Sehingga dalam buku-buku sejarah Malaysia sekarang ada sepenggalan cerita tentang pemberontakan komunis di Borneo Utara yang kebetulan bertepatan dengan konfrontasi Malaysia-Indonesia. Sehingga mereka menyatakan kalau Indonesia membantu pemberontakan komunis di Borneo Utara tersebut. Padahal ide perlawanan tersebut sudah berbeda dengan Indonesia yang hanya ingin mempersatukan Borneo Utara ke Indonesia. Sementara TNKU menginginkan kemerdekaan wilayah tersebut dengan haluan komunis.

Malaysia takut dengan RI

JAKARTA, KOMPAS.com — Konflik Indonesia-Malaysia kian meruncing setelah masalah perbatasan kembali mencuat ke publik. Anehnya, Pemerintah Indonesia selalu berdalih sebagai saudara tua untuk menyelesaikan konflik dengan jalur damai yang semakin membuat politik luar negeri Indonesia tidak memiliki jati diri.
Malaysia itu jangankan perang, mereka itu takut sama Indonesia. Tapi, kalau kita tidak punya konsep, mereka sudah siap mengajukannya untuk masuk ke Indonesia.
-- Zainuddin Sjafar

"Mereka tidak risau dengan masa lalu. Kejayaan Indonesia sudah tutup buku di mata mereka, tidak ada lagi istilah abang adik, saudara tua," ujar pengamat politik luar negeri UI, Zainuddin Djafar, Senin (30/8/2010), dalam diskusi CIDES, "Perkembangan Ekonomi dalam Dinamika Politik", di Hotel Ambhara, Jakarta.

Oleh karena itu, ia melanjutkan, sudah bukan saatnya lagi Indonesia merasa lebih hebat dari Malaysia karena mampu merebut kemerdekaan sendiri karena kini negeri jiran itu sudah berubah. Akan tetapi, ia juga menyatakan bahwa perubahan sikap Malaysia itu bukan berarti mereka hendak perang fisik dengan Indonesia.

"Malaysia itu jangankan perang, mereka itu takut sama Indonesia. Tapi, kalau kita tidak punya konsep, mereka sudah siap mengajukannya untuk masuk ke Indonesia," ungkap Zainudddin.

Salah satu yang dikhawatirkan adalah invasi melalui bidang ekonomi. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila nilai-nilai superioritas di kalangan masyarakat Malaysia sudah merebak sejak awal 2000-an. Khusus untuk soal superioritas tersebut, hal ini ditunjang oleh besarnya arus perubahan dan perkembangan ide-ide sipil orang Melayu sejak 2005.

"Perkembangan ide itu seperti orang Melayu harus progresif. Progressive mind ini yang membuat banyak negara menjadi negara maju," ujarnya. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Indonesia harus kembali mencari identitas diri yang kuat.

Setelah reformasi, menurut Zainuddin, Pemerintah Indonesia terlihat tidak pernah mengambil tindakan serius untuk menegakkan politik luar negeri ini. "Postur politik luar negeri ini kesannya sebagai konteks pelengkap penderita. Pejabat banyak bicara politik luar negeri ke sana kemari, tapi ternyata kita tetap kebobolan," tandas guru besar FISIP UI tersebut.

RI Siap perang lawan Malaysia

JAKARTA -Konflik senjata kemungkinan tak dapat dihindari jika kedua negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia, gagal menempuh cara diplomasi. Karena itu, TNI Angkatan Darat (AD) siap memberangkatkan seluruh jajaran ke perbatasan Ambalat yang diklaim negeri jiran tersebut.

''Kami harus siap menghadapi semua kemungkinan, termasuk penempatan pasukan di Ambalat,'' ujar Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal Joko Santoso usai upacara peringatan HUT Kostrad, Selasa kemarin.

Dalam waktu dekat ini, menurutnya, TNI AD akan mempersiapkan seluruh kekuatan untuk diproyeksikan sewaktu-waktu ke Ambalat. ''Eksistensi negara dipertaruhkan di sana, kami harus siap," ujarnya lagi.

Namun dia menyatakan, hingga saat ini belum ada pasukan TNI AD yang diberangkatkan ke Ambalat. ''Kami masih tunggu bagaimana keputusan politik Presiden. Kami menghormati hal itu.''

Menurut dia, pasukan Kostrad dan satuan-satuan TNI AD lainnya dalam posisi siap diberangkatkan ke Ambalat untuk mempertahankan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

''Kostrad dan satuan-satuan lainnya telah mempersiapkan diri untuk diproyeksikan ke perbatasan Indonesia-Malaysia.''

Bagi TNI AD, kata dia, kedaulatan negara adalah harga mati dan tidak ada kompromi bagi siapa pun yang mengganggu NKRI. ''Perkembangan situasi yang terjadi Indonesia-Malaysia merupakan upaya dari negara tetangga untuk mengusik kedaulatan NKRI. Itu tidak boleh terjadi. Kita harus menghadapi dengan tegas.''

Senjata Roket

Dari Surabaya dilaporkan sebanyak satu batalyon atau sekitar 700 personel pasukan baret ungu ini siap diterjunkan ke Ambalat jika Panglima TNI memerintahkan.

''Ibarat kita sekarang stand by dan on call. Satu batalyon sudah kita siapkan dan sewaktu-waktu dibutuhkan dan ada perintah, ya kita berangkat danbergabung dengan pasukan lainnya,'' tegas Danpasmar Brigjen Baharudin.

Kemarin di Bumi Marinir Karangpilang Surabaya dilangsungkan apel organik kesatuan khusus TNI-AL ini. Inspektur upacaranya Brigjen Baharudin.

Sebelumnya, satu kompi pasukan marinir juga telah diberangkatkan ke Nunukan dan Pulau Sebatik, dua pulau yang berdekatan dengan Pulau Ambalat yang diklaim Pemerintah Malaysia. Tugas satu kompi pasukan marinir tersebut untuk membantu pengamanan di kawasan yang sedang panas tersebut. ''Dan tambahan satu batalyon marinir telah kita siapkan untuk tugas ke sana.''

Satu batalyon pasukan marinir yang dipersiapkan ke Ambalat berasal dari Yonif 1 Marinir. Mereka dilengkapi berbagai macam persenjataan mutakhir, termasuk roket RM-70 yang baru dibeli TNI-AL dari Chekoslovakia. Roket jenis ini telah diuji coba kemampuannya di Puslatpur Marinir Asembagus, Kabupaten Situbondo, beberapa waktu lalu. Jangkauan jarak tembak senjata roket ini 20 kilometer dengan kemampuan daya rusak pada radius 2 kilometer dan sekali tembak mampu memuntahkan 40 peluru. Roket RM-70 ini juga bisa dimanfaatkan dalam pertempuran laut.

Selain roket, juga dilengkapi dengan persenjataan artileri, yakni howitzer-105 dan howitzer-122. Meski secara organik pasukan tersebut berasal dari Yonif 1, namun mereka didukung resimen artileri dan pasukan elite marinir.

Hingga kini Mako Armatim telah memberangkatkan 5 kapal perang ke sana. Di samping itu, 167 kapal perang lainnya juga disiagakan untuk ditugaskan ke sana sewaktu-waktu. Kapal perang TNI-AL juga didukung dua pesawat terbang pengintai jenis nomad.

Demo Marak

Untuk mendukung kedaulatan NKRI, DPD KNPI Yogyakarta menyerukan agar dilakukan mobilisasi umum kepada segenap rakyat Indonesia untuk melawan Malaysia. Mobilisasi umum itu dilakukan dengan mengirimkan para pemuda yang telah dilatih untuk membantu TNI di kawasan Ambalat. Sejumlah spanduk provokatif ajakan berkonfrontasi dengan Malaysia mulai bermunculan.

Spanduk dari kain putih dengan panjang sekitar 8 meter itu di antaranya terbentang di daerah Jl Magelang Km 15 Kecamatan Tempel Sleman. Spanduk itu bertuliskan "Ayo Ganyang Malaysia".

Setelah di Makassar dan Jakarta, bendera Malaysia juga dibakar oleh para demonstran di Surabaya. Sebelum dibakar, bendera itu diinjak-injak terlebih dulu. Aksi pembakaran digelar di halaman patung Gubernur Suryo, Surabaya. Aksi ini dilakukan sekitar 10 mahasiswa dari Front Aksi Mahasiswa Surabaya.

Di Jakarta aksi dorong-mendorong antara sekelompok massa dan aparat keamanan mewarnai demonstrasi di depan pintu gerbang Kedubes Malaysia Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Sekelompok massa yang terdiri atas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pemuda Panca Marga DKI Jakarta, Gerakan Ketahanan Betawi Indonesia, serta Front Penegak Demokrasi tiba pukul 13.20 WIB. Mereka datang menumpang 8 bus Metro Mini, beberapa puluh motor, dan beberapa mobil pribadi.

Aksi menegangkan ini dipicu ketika sedikitnya 100 demonstran memaksa untuk merangsek masuk ke dalam kantor kedubes. Tetapi mereka diadang oleh sekitar 42 personel dari Polsek dan Polres Jakarta Selatan. (di,G14, bu,nas-33t)

Tuesday, August 24, 2010

Tukang Pijat Bunuh Kopassus karena Kesal

Solo, CyberNews. Motif kesal atau jengkel yang paling mendekati kasus pembunuhan Kopda Santoso (28) yang dilakukan Yulianto (40). Hal itu terungkap berdasar keterangan tersangka.

Yulianto yang dikenal sebagai dukun dan tukang pijat menaruh rasa kesal mendalam terhadap korban. Sebab janji korban yang hendak memberikan uang kepada tersangka tak pernah ditepati. Pada tanggal 8 Agustus 2010, saat korban berobat itulah aksi keji Yulianto dilaksanakan.

Ayah tiga anak itu saat membunuh Kopda Santoso, tidak melakukan persiapan sama sekali. Niat membunuh muncul secara spontan. Cara menghabisi korbannya pun dilakukan secara reflek.

Suami Sri Mulyati itu menuturkan, almarhum Santoso sudah melakukan pengobatan sakit ambeien-nya sebanyak delapan kali. Hingga sakitnya itu sembuh, uang yang dijanjikan untuk membayar jasanya itu tidak kunjung diserahkan. Saking jengkelnya niat menghabisi pasiennya pun tak terelakkan.

"Saya membunuh Santoso (Kopda Santoso-red) karena tidak memenuhi janjinya dan membuat diri saya jengkel. Dia saya suruh minum ramuan kecubung," ujar Yulianto, Selasa (24/8) kemarin.

Setelah minum kecubung, kata dia, cara membunuh dilakukan ketika korban dalam posisi tengkurap untuk menjalani pemijatan. Setelah kondisi korban teler, tersangka yang berada di atas tubuh korban, lalu kepalanya ditarik ke atas sambil membekap mulut korban hingga tewas.

Yulianto juga membeberkan, modus serupa juga dia lakukan saat membunuh Sugiyo Wito Semito, sekitar enam atau tujuh tahun silam.

Seperti diberitakan, korban pembunuhan yang ditemukan di sebelah timur Kandang Sapi pada Senin (23/8), diyakini bernama Sugiyo Wito Semito alias Kentus (63) warga Betengsari, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Menurut cerita Yulianto, sekitar 6-7 lalu, ia pernah berurusan hutang piutang penjualan tanah dengan tetangganya itu. Ada sejumlah uang yang belum dibayar korban. Bahkan, Sugiyo malah sering pinjam uang dari Rp 500 ribu, samapi Rp 1 juta.

Teman dekatnya itu juga meminjam tanah milik Yulianto, tetapi tidak digunakan sebagai lahan pertanian dan tidak pernah dikembalikan. Sampai akhirnya Yulianto meminta korban kalau pinjam lagi harus bawa serfikat tanah. "Tetapi saya terlanjur marah hingga akhirnya saya jengkel dan membunuhnya, lalu jasadnya saya kubur di samping kandang sapi," ujarnya.

Cara membunuh korban pertamanya itu dengan meracuni korban dengan ramuan ''maut''nya (kecubung-red). "Kedua korban, baik Kopda Santoso dan Sugiyo, saya suruh minum jamu (ramuan kecubung) lebih dahulu. Setelah keduanya linglung lalu saya bekap," terangnya.

Pria yang memiliki sifat temperamen itu menambahkan, setelah kedua korban tersebut dibunuh, mayatnya kubur disekitar rumah pada saat malam hari dan dilakukan sendirian tanpa bantuan orang lain. "Kedua mayat saya kuburkan di sebelah kandang sapi dan kambing agar tidak diketahui warga," tandasnya.

Terkait kemampuannya mengetahui dalam bidang pengobatan, ia belajar sejak lama dan diperoleh dari orang tuanya. "Praktik pengobatan sudah saya jalani sekitar 10 tahun yang lalu dan sudah banyak pasien yang terbukti sembuh," jelasnya.

Untuk pasiennya sendiri, Yulianto mengaku banyak juga berasal dari luar kota dan juga ada yang dari tetangganya sendiri. Saat ditanya mengenai Siti mantan pacarnya yang hilang diduga juga dibunuh, Yulianto tidak mengakuinya. Pengembala kambing itu mengatakan hingga saat ini tidak mengetahui keberadaannya. "Terakhir ketemu Siti sekitar tahun 1991 dan setelah itu tidak tahu kabarnya," kata dia.

( Sri Hartanto /CN12 )

Powered by Telkomsel Blackberry

Friday, August 13, 2010

Densus88 dilatih SWAT Amerika

Detasemen 88, atau Delta 88, merupkan julukan bagi satuan pasukan khusus antiteror yang sedang disiapkan oleh Polri. Direktur Antiteror pada Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara RI Brigadir Jenderal (Pol) Pranowo menjelaskan, angka “88″ diambil dari jumlah korban ledakan bom yang tewas terbanyak pada saat terjadi bom di Bali. Pada peristiwa tersebut, sebanyak 88 warga negara Australia (satu negara) tewas.
Makna “88″ berikutnya adalah, angka “88″ tidak terputus dan terus menyambung. Ini artinya bahwa pekerjaan Detasemen 88 Antiteror ini terus berlangsung dan tidak kenal berhenti. Angka “88″ juga menyerupai borgol yang maknanya polisi serius menangani kasus ini.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui U.S. State Department’s Diplomatic Security Service dan dilatih langsung oleh CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan 400 personel ini diperkirakan akan efektif beropersai pada tahun 2005. Mereka terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Satuan pasukan khusus baru Polri ini dilengkapi dengan persenjataan dan kendaraan tempur buatan Amerika, seperti Colt M-4 assault rifles (senapan serbu), Armalite AR-10 sniper rifles (senapan tembak jitu), dan Remington 870 shotguns (pistol). Bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya. Semua persenjataan yang diberikan, termasuk materi latihan, diberitakan sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris AS.

Sidney Jones, CIA atau provokator Yahudi

Seorang yang banyak mengopinikan bahwa Islam adalah Teroris adalah Sidney Jones. Bahkan orang ini sangat getol mempropagandakan bahwa semua simbol-simbol Islam adalah simbol Teroris? Siapakah Sidney Jones ini? Berikut ini hasil investigasi tentang Sidney Jones.

Sidney Jones, direktur ICG (International Crisis Group) untuk Indonesia, tersandung masalah, karena sebagai orang asing kehadirannya tidak lagi dikehendaki di negeri ini. Alasan pengusiran itu, menurut Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) AM Hendropriyono, disebabkan oleh laporan-laporan yang dipublikasikannya berkenaan dengan terorisme Jamaah Islamiyah dikategorikan bias atau bersifat fitnah.

Membaca laporan-laporan yang disampaikan Sidney Jones secara berkala, niscaya membuat banyak orang terkecoh. Tapi, bagi kalangan aktivis pergerakan, laporan itu haruslah disikapi dengan waspada dan hati-hati. Ketika sekelompok orang mendesak untuk menanggapi beberapa laporan yang sudah dipublikasikan ICG, penulis tidak merasa kaget: “Ini hanya sebuah permainan.” Saya percaya, Sidney Jones adalah seorang ilmuwan, sembari berharap, cepat atau lambat, ia akan kembali kepada fitrahnya sebagai ilmuwan, yaitu mengutamakan kebenaran serta menjunjung tinggi kejujuran intelektual.

Sejak tahun 1980-an, ketika merebak kasus subversi yang diidentikkan dengan gerakan Islam radikal, dan ketika banyak aktivis Islam ditahan dan mendapat perlakuan tidak wajar dari pemerintah Orde Baru, Sidney Jones dengan bendera Amnesti Internasional tampil sebagai pembela yang simpatik dan manusiawi. Ia banyak mendokumentasikan berbagai proses pengadilan, dokumen persidangan, dan berbagai data lainnya. Semuanya itu, ternyata menjadi barang berharga pasca-tragedi WTC 911, suatu hal yang barangkali tidak diduga, bahkan oleh Sidney Jones sendiri. Secara teknis upaya pengumpulan data yang dilakukan Sidney Jones dan kemudian dipublikasikan dalam bentuk laporan berkala, tidak perlu dibantah. Ia lumayan berpengalaman di bidang itu. Namun, hal yang juga tidak bisa dibantah adalah adanya kepentingan intelijen yang menyertai gerak langkahnya, terutama di masa propaganda anti-terorisme digencarkan AS. Baik itu intelijen asing seperti CIA, yang tentu saja bekerja sama dengan lembaga intelijen maupun LSM lokal di Indonesia.

Setiap laporan yang dipublikasikan, dilengkapi dengan catatan kaki, maraji’ (merujuk) yang jelas dan terang sumber-sumbernya, baik dari media massa, buku-buku, wawancara, termasuk juga dari dokumen (informasi) intelijen. Bagi mereka yang berada di “lapangan” ketika membaca laporan yang diterbitkan ICG, meski perlu sedikit waktu, namun tetap bisa dirasakan bagian-bagian mana yang berasal dari dokumen (informasi) intelijen, mana informasi yang jelas faktanya dan mana yang hanya fiktif belaka. Laporan ICG tentang terorisme, sebenarnya kebanyakan berasal dari dokumen (informasi) intelijen lokal.
Maka, ketika baru-baru ini, laporan ICG berkenaan dengan terorisme mendapat sorotan negatif dan dinilai memfitnah oleh Badan Intelijen Negara (BIN), justru mengundang tanda tanya besar. Dengan mengatasnamakan pemerintah dan meminta dukungan Komisi I DPR RI, Kepala BIN AM Hendropriyono (25/5) melakukan upaya-upaya yang dianggap tepat, yaitu mengusir Sidney Jones sebagai orang yang tidak disukai oleh bangsa Indonesia.

Mengapa baru sekarang? Sekiranya laporan-laporan ICG mengenai Jamaah Islamiyah (JI) dan terorisme, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia dinilai menyebarkan berita bohong, mengapa baru sekarang diungkapkan? Betapa lambannya kerja aparat intelijen.

Karena itu, wajar manakala berkembang opini, ketika hal yang bias tadi hanya merugikan umat Islam, hanya merugikan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, mereka diam saja. Bahkan menikmati buah yang dihasilkan dari kebijakan politik stick and carrot Presiden AS George W Bush.

CIA

CIA

Kenyataan yang tidak mungkin ditutup-tutupi lagi, bahwa polisi melakukan penahanan paksa terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, lalu membawanya ke proses pengadilan, hingga ke tingkat MA, sebenarnya didasarkan pada laporan bias tadi. Hasilnya bagi polisi cukup pahit, fakta yang terungkap di pengadilan mencengangkan, Ustadz Ba’asyir hanya bisa dijerat untuk kasus pemalsuan identitas dan melakukan kesalahan prosedur keimigrasian. Artinya, jauh dari aroma terorisme.

Dengan bersandar pada laporan yang bias tadi, polisi juga menangkap aktivis Muslim, bahkan ada yang mendapat siksaan, ditelanjangi lalu diminta memainkan alat vitalnya sambil distelkan video porno dan aneka perlakuan tidak wajar lainnya, seperti dialami tahanan kasus teroris di Bali. Juga, melakukan upaya evakuasi paksa terhadap Ustadz Ba’asyir dari RS PKU Muhammadiyah Solo ke tahanan Mabes Polda Jakarta. Bahkan ketika Ustadz Ba’asyir seharusnya menghirup udara bebas, meninggalkan sel penjara setelah menjalani vonis 18 bulan, pada 30 April lalu, aparat polisi justru menggelandangnya secara paksa dari Rutan Salemba, sehingga menyebabkan benturan berdarah antara polisi dan massa yang hendak menyambut kebebasan beliau.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ketika itu menjabat Menko Polkam, mendapat keuntungan. SBY mendapat toast langsung dari Wolfowitz serta applaus meriah dari petinggi AS lainnya, ketika ia berkunjung ke Washington DC, seraya melaporkan keberhasilannya menangkapi para aktivis masjid yang diduga terkait terorisme. Kini SBY melenggang masuk bursa pencalonan presiden.

Tampaknya ada semacam tradisi di kalangan pejabat Indonesia untuk selalu mengikuti ‘perintah’ AS. Bahkan ada semacam klenik politik, bahwa tanpa dukungan AS tidak mungkin seorang putra Indonesia bisa melaju mulus dan bisa bertahan lama menduduki kursi presiden di Indonesia.

Megawati Soekarnoputri, selain menerbitkan UU Anti-Terorisme, pernah berucap, “Kita tidak mungkin melawan AS. Kalau melawan, kita tidak akan bisa bertahan walau hanya seminggu.”

Wiranto, capres dari Golkar tampaknya juga punya keyakinan serupa. Di dalam, materi kampanyenya di TV swasta, Wiranto menampilkan sosok Paul Wolfowitz (Deputi Menhan AS, seorang arsitek pembantaian dan pemusnahan massal terhadap rakyat Irak). Belum lama ini Wiranto bertemu Dubes AS, Ralph L Boyce di Jakarta, setelah sebelumnya sempat menjadi penyanyi dadakan di sebuah acara ulang tahun Dhani Dewa, yang juga dihadiri beberapa petinggi AS.

Hal lain, tumbuhnya permusuhan antara aparat kepolisian dengan aktivis penegak syariat Islam, terjadi antara lain berkat laporan yang bias tadi. Mengapa kita harus berdarah-darah karena sebuah laporan yang pada akhirnya diketahui bohong?

Bebaskan para tersangka teroris
Laporan ICG, memang itdak selalu akurat. Pada laporannya tanggal 8 Agustus 2002 misalnya, di bawah judul, “Al Qaeda in Southeast Asia: ‘Ngruki Network’ in Indonesia”, antara lain dikesankan bahwa penulis dan Agus Dwikarna (kini menjadi terpidana 10 tahun penjara di Filipina), sudah berkawan sejak lama, semenjak menjadi sesama aktivis menentang asas tunggal Pancasila. Padahal, penulis pertama kali berjumpa dan kenal Agus Dwikarna pada Agustus 2000, ketika ia membawa banyak partisipan dari Makassar mengikuti Kongres Mujahidin I yang diadakan di Yogyakarta.
Agus Dwikarna adalah aktivis KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariah Islam) di Sulawesi Selatan, jauh sebelum Kongres Mujahidin berlangsung. Kemudian, Agus Dwikarna menjadi wakil sekretaris Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin periode 2000-2003.

Patut dipertanyakan, dari mana Sidney Jones mendapat informasi itu? Kemungkinan dari dokumen (informasi) badan intelijen. Sebab, bila ia mewawancarai penulis atau Agus, pastilah tidak akan ada kesalahan laporan seperti itu.
Contoh lain, masih pada laporan yang sama, adalah informasi tentang Ibnu Thayib alias Abu Fatih alias Abdullah Anshari. Menurut laporan itu, Abdullah Anshari alias Ibnu Thayib alias Abu Fatih pada Juni 1986 berada di LP Cipinang. Ia mendekam di LP dengan vonis 9 tahun untuk kasus Usroh, dan tetap mendekam di LP hingga bebas tahun 1993. Dengan data palsu semacam itu, ICG kemudian membuat kesimpulan salah dan fatal, seakan-akan Majelis Mujahidin yang dipimpin Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merupakan embrio DI/TII dan menjadi organisasi payung bagi Jamaah Islamiyah (JI).

Padahal JI, seperti diceritakan Ustadz Iqbal Abdurrahman alias Abu Jibril yang dideportasi pemerintah Malaysia ke Indonesia, 14 Mei 2004, adalah istilah yang dibuat polisi Malaysia. Ketika sejumlah pemuda Islam Malaysia ditahan, 2001, di bawah UU Keamanan Dalam Negeri (ISA) dalam interogasi polisi menanyakan: “Siapa guru kalian?” “Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Iqbal,” jawab mereka. “Apa nama kumpulan kalian?” “Kami hanya jamaah pengajian biasa, tidak ada namanya.” “Kalau begitu kalian disebut Jamaah Islamiyah saja.” Kemudian, persis seperti yang dilakukan Ali Moertopo dengan menciptakan istilah Komji (Komando Jihad) di masa Orde Baru, yang kemudian dijadikan alasan menangkap eksponen DI/TII dengan tuduhan subversi.

Pada laporan ICG 11 Desember 2002, “Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates,” antara lain disebutkan bahwa Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad, paman Al Chaidar, mengenal dan pernah bertemu tokoh JI Abdullah Sungkar melalui bapaknya almarhum Tengku Hasbi Gedong. Laporan ICG juga menyebutkan bahwa Abu Jihad pernah bertemu dengan Al-Farouq, Hambali, dan sebagainya. Tetapi ICG sama sekali tidak melaporkan, bahwa sejak 1979, seperti dinyatakan sebuah sumber yang dekat dengan Lamtaruna, putra Tengku Fauzi, bahwa Abu Jihad sudah bekerja untuk TNI AD di dalam memerangi gerakan separatis di Aceh. Laporan itu hanya memberikan kesan bahwa Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad yang terbunuh Februari 2003 di Ambon ketika sedang menjalankan tugas dari lembaganya adalah tokoh Islam garis keras dari Aceh.

Berkenaan dengan kasus Usroh, laporan ICG (8 Agustus 2002) sangat selektif, entah dengan maksud apa. Laporan itu sama sekali tidak mencantumkan nama Nur Hidayat (NH). Malahan, yang selalu disebut-sebut, selain Abdullah Sungkar adalah Ibnu Thoyib alias Abu Fatih alias Abdullah Anshari serta beberapa nama lainnya. Padahal sosok NH ini begitu penting pada masa itu, bahkan tetap penting pada masa-masa berikutnya (tahun 2000-an).

Ketika ucapan yang ditujukan kepada Ibnu Thayib tidak mempan, ternyata umpan itu ditelan oleh NH. Kemudian meledaklah kasus Lampung yang terjadi Februari 1989. Sosok NH ini juga berperan penting menjelang kejatuhan rezim Soeharto (1998), khususnya yang berkaitan dengan pembentukan Pam Swakarsa.

Pada tahun 2000, kasus peledakan malam Natal, sosok NH juga menjadi buah bibir. Beberapa saat setelah kasus peledakan Malam Natal tahun 2000 terjadi, kepada seorang tokoh Islam asal Bekasi, NH mengatakan via telepon, bahwa peledakan itu dilakukan oleh “orang-orang kita.”

Pada harian Rakyat Merdeka, edisi 29 Januari 2001, NH mengatakan bahwa ia tahu akan terjadinya peledakan malam Natal 2000 dari seorang kawannya asal Bandung, bahkan sang kawan itu berusaha mengajaknya namun NH menolak. Pernyataan itu, seharusnya bisa menjadi alasan bagi pihak kepolisian untuk menindak NH. Tapi hal itu tidak dilakukan polisi.

Ustadz Abu Bakar Baasyir

Ustadz Abu Bakar Ba'asyir

Sementara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, hanya akibat ‘pengakuan’ Al-Farouq kepada majalah Time edisi September 2002 maupun pengakuan (BAP) Faiz Abubakar Bafana, beliau dibawa secara paksa dari RS PKU Solo, dimasukkan ke dalam rumah tahanan, dan diproses secara hukum. Setelah menjalani proses peradilan yang panjang, ternyata beliau tidak terbukti terlibat dalam kasus peledakan malam Natal tahun 2000.

Berbeda dengan Ba’asyir, sosok NH jangankan tersentuh proses hukum, disebut-sebut saja tidak oleh Sidney Jones. Inilah salah satu kejanggalan yang amat luar biasa telanjang.

Meski sudah mendapat ampunan dari Presiden Habibie, Ustadz Ba’asyir tetap diproses dan divonis 18 bulan oleh MA untuk kasus pelariannya ke Malaysia. Bandingkan dengan Wahidin, salah satu dari empat serangkai provokator kasus Lampung, yang hingga kini bebas melenggang ke sana ke mari bersama NH, padahal dulu ia buron, lenyap bagai ditelan bumi, guna menghindari proses hukum kasus Talangsari, Lampung, 1989.

Begitu banyak kejanggalan dan bias yang bisa didapatkan dari laporan tentang terorisme, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia. Apakah pantas jika karena itu polisi menguras tenaga, berdarah-darah, dan menzalimi ulama, seorang tua yang bahkan melalui sidang pengadilan pun tidak terbukti bersalah?

Sekalipun terlambat, akhirnya pemerintah Indonesia menyadari telah diprovokasi LSM asing. Oleh karena itu, jika kesadaran pemerintah ini muncul dalam kerangka membangun Indonesia yang lebih bermartabat, maka keteledoran ini hendaknya didukung tindakan konkret.

Pertama, Mahkamah Konstitusi segera menghapus UU No 1 tahun 2002 tentang Anti-Terorisme dan UU No 15 tahun 2003. Pencabutan ini tidak akan menyebabkan kekosongan hukum (rechtsvakuum) karena perihal pembunuhan berencana, pemilikan bom dan senjata, permufakatan jahat, pembajakan pesawat udara, ataupun makar, sebagaimana tercantum dalam UU Anti-Terorisme, telah diatur dalam peraturan hukum pidana RI.

Kedua, dengan berbagai kebohongan pemerintah AS sejak peristiwa WTC (2001) hingga invasinya ke Irak (2003), bangsa Indonesia harus meyakini tentang kebobrokan konsepsi terorisme, karena itu pemerintah harus mundur dari Traktak Anti-Terorisme PBB. Ketiga, aparat keamanan yang telah menangkap ulama dan aktivis Islam menggunakan data bohong tentang terorisme Jamaah Islamiyah harus dimintai pertanggungjawaban dan diseret ke sidang pengadilan sebagai pelaku pelanggaran HAM berat. Dan keempat, tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama menahan ulama dan aktivis muslim yang ditahan dengan tuduhan terorisme, maka pemerintah harus segera membebaskan mereka, demi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sumber data dari: Irfan S Awwas
(Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin)

http://kabarnet.wordpress.com/2009/08/30/siapakah-sidney-jones-ilmuan-atau-provokator-yahudi/

http://bifisamagz.wordpress.com/2009/09/01/siapa-sidney-jones-cia-atau-provokator-yahudi/

WNI yang ditangkap di Malaysia bukan anggota JAT

Jakarta - Mabes Polri menuding warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap polisi Malaysia dengan tuduhan terorisme, Mustawan Ahbab, sangat aktif sebagai anggota Jemaah Anshorut Tauhid (JAT). JAT tegas-tegas membantah tudingan tersebut.

"Mestinya Mabes Polri jangan ngomong saja, tunjukkan buktinya! Kemarin yang ditangkap di Bandung dikatakan juga anggota kita, tapi ternyata bukan," kata Juru Bicara JAT, Son Hadi, kepada detikcom, Sabtu (14/8/2010).

Menurut Son Hadi, JAT yang baru berumur 2 tahun ini mempunyai sekitar 1.500 orang anggota. Kebanyakan mereka berbasis di Jawa Tengah. Seluruh anggota JAT terdaftar. Setiap anggota baru yang bergabung diminta untuk melakukan registrasi.

"Nah, yang di Malaysia itu tidak ada sama sekali," ungkapnya.

Son Hadi menyayangkan kecurigaan polisi terhadap organisasinya yang terlalu berlebihan. JAT merupakan organisasi yang terbuka dan bukan kelompok bawah tanah.

"Sesama anggota kita sedang menyamakan visi. Kan sebelumnya setiap anggota mempunyai aktivitas sendiri-sendiri. Makanya polisi jangan main generaliasi saja," pinta pria asli Surabaya, Jawa Timur, ini.

Seperti diberitakan kantor berita Malaysia, Bernama, dan dilansir The Star, Kamis (12/8/2010) kemarin, Mustawan ditangkap di Bukit Indah, Ampang, Selangor, pada Rabu (11/8/2010). Dia diduga terkait langsung dengan jaringan Aceh.

Mustawan berprofesi sebagai marketing executive di suatu perusahaan. Sedangkan 2 WN Malaysia lain yang ikut ditangkap adalah Sheikh Abdullah Sheikh Junaid (70) yang menjadi managing director di perusahaan yang sama. Sementara Samsul Hamidi (34) bekerja sebagai kontraktor.
(irw/irw)

Thursday, August 12, 2010

Berbuka dengan Es Jeng Sumijo

Namanya es jeng sumijo (jenang sungsum, mutioro dan kacang ijo)...
Kitabsolo-Saat berbuka puasa, dianjurkan agar makan dan munum yang manis manis dulu, dan biasanya kalau tidak es kolak ya es buah, namun menu yang satu ini perlu dicoba.

Ya, es jeng sumijo,merupakan campuran dari makanan khas solo yaitu jenang sungsum dipadu es.Es jeng sumiio sendiri diambil dari singkatan es jenang sungsum, jenang mutiara dan kacang ijo.

Selain manis, es jeng sumijo juga bisa mengeyangkan, namun tidak eneg, sehingga sehabis buka puasa dengan es sumijo, tidak harus langsung makan nasi tapi bisa bersantai dulu.

“Paduan dari makanan tradisonal dan es, Cuma ada di tempat ini ” kata Iskandar, pembuat es jeng sumijo.

Cara membuatnya tidaklah sulit, sediakan jenang sungsum, jenang mutiara merah, kacang ijo, setelah dicampur semua ke dalam gelas, kemudian dipadu dengan, roti tawar diiris kotak, kolang kaling, setelah semua terkumpul dalam wadah selanjutnya diguyur dengan air santan, dan diatasnya diberi parutan es batu yang ditaburi buah selasih dan terakhir disiram dengan syrup.


Salah satu penikmat es, joko jimboeng, mengaku langsung senang setelah mencoba es jeng sumijo, apalagi ia menikmatinya saat berbuka puasa, rasa haus dan laparnya lansgung terobati.
“Pokoknya mantap segar dan kenyang, mak hnyus,” kata Jimboneg sambil makan saat waktu buka tiba.


Uintuk mendapatkan es jeng sumijo ini tidaklah mahal, dengan uang 12 ribu rupiah, pengunjung akan menikmati es dengan selera tradisional,yang bisa didapati di warung gayeng,di jalan dr rajiman solo. selain es jeng sumijo, di tempat ini juga ditawarkan menu lainnya yang unik antara lain es mendem, denga harga 14 ribu rupiah pengunjung bisa menikmati es yang merupakan paduan dari irisan kelapa muda, jambu, cendol ijo, nata decoco, nangka, roti diiris kotak=kotak, parutan es batu,es cream,serta susu coklat dan putih. tons

Monday, August 9, 2010

Sepakbola sarung

Pondok09-Dalam rangka memeriahkan HUT RI Ke-65, warga Pondok Rt9/ Rw 4 Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, menggelar berbagai lomba. salah satunya yaitu Lomba sepakbola bapak-bapak namun mengenakan sarung, yang telah digelar Sabtu 8 Agustus di Lapangan Pondok. 13:24Acara yang dikoordonir oleh Ketua RT 09 Komarun ini berlangsung meriah dari pukul 16.00 hingga pukul 18.00. diikuti dan disaksikan ratusan warga. Akhirnya tim dengan kapten bapak Arief Noer berhasil menjadi juara pertama.

Kegiatan HUT RI meski diadakan secara sederhana, tiap tahun dilaksanakan, selain untuk memperingati HUT RI tujuannya juga dalam rangka silaturrahmi sekaligus mempererat tali persatuan dan persudaraan antar warga Pondok Rt9.

ABB ditangkap aksi teroris melemah?

Benarkah, Ketua Majelis Jamaah Ansharut Tauhid Abu Bakar Ba'asyir merupakan dalang terorisme yang terjadi di tanah air kita? seperti yang dituduhkan amerika dan polisi?apakah setelah ABB ditangkap aksi teroris juga mereda dan kemudian hilang?

ABB ditangkap Densus 88 Mabes Polri di Jawa Barat, Senin (9/8/2010) kemarin. Meski belum terbukti sebagai teroris, penangkapan terhadap Ba'asyir ini diharapkan mampu melemahkan pergerakan para teroris di Indonesia.

"Diharapkan melemah, karena salah satu tokoh penting tertangkap," kata Kepala Desk Antiteror Kemenkopolhukam Ansyaad Mbay kepada detikcom, Senin (10/8/2010) malam.

Namun demikian, karena masih banyak tersangka teroris yang masih belum tertangkap, ke depan diperkirakan Indonesia masih belum aman dengan ancaman terorisme.

"Kemungkinan fifty-fifty, karena masih banyak yang belum tertangkap, seperti jaringan di Aceh, tokoh-tokoh penting masih belum tertangkap, juga tokoh lama seperti Umar patek dan Zulkarnain juga belum tertangkap," papar Ansyaad.

Ansyaad berharap, polisi terus gencar melakukan antisipasi terhadap kemungkinan adanya serangan teroris dengan mengejar, melacak, dan menggagalkan rencana-rencana aksi para teroris. Di samping itu dukungan dari TNI dan juga masyarakat perlu diberikan.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh Mabes Polri tadi malam, Abu Bakar Ba'asyir menolak 41 pertanyaan penyidik. Mantan Emir Majelis Mujahidin Indonesia ini menuding ada kepentingan Amerika di balik penangkapan atas dirinya tersebut.

Sementara, Mabes Polri menyebut Abu Bakar Ba'asyir sebagai penyandang dana teroris di Aceh serta menjadi inisiator pelatihan-pelatihan militer para teroris di Aceh. (anw/mpr)

Facebook Ustadz ABB Tembus Ribuan Pendukung

JAKARTA (Arrahmah.com) - Facebook Freedom and Support Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (ABB) pagi ini menembus angka 1.371, Selasa (10/8). Berbagai komentar dan dukungan bermunculan di situs jejaring sosial tersebut. Poster Ustadz ABB pun bermunculan lengkap dengan kalimat-kalimat dukungan. Ribuan umat Islam kabarnya akan memadati Masjid Al Azhar, siang ini untuk memberikan dukungan kepada Ustadz ABB. Perlawanan baru saja dimulai!

Laskar Khusus 99 Anti Densus 88

Facebook Ustadz ABB saat ini menjadi tempat paling favorit bagi siapapun yang ingin menumpahkan kekesalannya kepada tindakan dzolim aparat kepolisian yang telah menangkap paksa Ustadz ABB, terutama Densus 88.

Facebook yang saat ini menjadi trend perjuangan umat Islam tersebut beralamat di http://www.facebook.com/free.abb. Foto profilenya tentu saja gambar Ustadz ABB, dengan tulisan mencolok berwarna merah dan kuning, Freedom and Support Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (hafizahullah). Pada bagian atas tertulis :

"Apa yang bisa diperbuat musuh padaku !!!! taman dan kebun (surga)ku ada di dadaku, Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Terpenjaraku adalah khalwat, pembunuhanku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi..."

Tidak kalah menariknya beberapa komentar ditujukan kepada Densus 88, utamanya kekesalan dan makian, karena tindakan represif yang selalu dilakukannya. Abu Zidane, salah seorang pengunjung, dengan menggunakan foto profil Ustadz ABB berkomentar:
"Ya ALLAH Hancurkan Musuh Musuh Islam Hancurkan densus 88 beserta pemerintahan yg dzolim ini, Kami hanya merindukan & memperjuangkan SyariatMu tegak di bumi ini. Ya Allah beliau adalah Amir Kami jagalah dan lindungilah dia karena kami semua hanya bergantung dan berlindung kepadaMU ya RAB. ALLAHU AKBAR.."

Sementara itu pengunjung yang lain ikut mengomentari dan berkomentar tentang Densus 88.
DENSUS 88 ANTITEROR (ANTI ISLAM).... Buatan Yahudi Laknatullah dari negeri Kangguru. dan sekutusekutunya US dan ISRL. Semoga Allah memberi Laknat kepada mereka DENSUS 88 dan juga para pemimpin yang DZOLIM....!!!! Amiiiiinn...

Kekesalan para pengunjung dan pendukung Ustadz ABB kepada Densus 88 juga dilampiaskan melalui poster. Sebuah poster bertuliskan Detasemen Antiteror yang dihiasi bintang david, symbol negara zionis yahudi. Poster lainnya bertuliskan Laskar Khusus 99 Anti Densus 88 dengan lafadz syahadah di tengah lingkaran dan QS Al Anfal ayat 60 sebagai dasar pijakan. Semua ini menggambarkan kekecewaan dan kekesalan umat kepada lembaga yang bernama Densus 88 ini.

Sikap Ustadz ABB sendiri sangat tegas terhadap Densus 88 dan menganggap lembaga tersebut hanya sebagai kepanjangan tangan dari Amerika.

"Atas izin Allah saya menolak untuk diperiksa oleh Densus 88 karena menurut keyakinan saya hal itu adalah diharamkan karena Densus 88 menurut pandangan saya merupakan kepanjangan dari musuh-musuh Islam, dalam hal ini AS dan Israel yang masuk dalam kategori kafir harbi, kafir yang sedang memerangi Islam dan umat Islam,"

"Maka haram bagi saya untuk memberikan keterangan dalam pemeriksaan oleh Densus 88. Karena itu berarti membantu kafir harbi yang sekarang dikutuk oleh Allah SWT,"

Solidaritas Umat Untuk Ustadz ABB

Sejak pagi, Selasa (10/8/2010) hp redaksi arrahmah.com dibanjiri sms yang mengajak untuk berkumpul siang hari ini di Masjid Al Azhar, Kebayoran, Jakarta Selatan. Misalnya sebuah sms dari Shariah 4 Indonesia yang berbunyi:

"Diharapkan hadir di Masjid Al Azhar Kebayoran pada hari ini jam 12.00 WIB buat dukungan kepada orang yang kita cintai UST ABU BAKAR BA'ASYIR. Semoga Allah memudahkan langkah kita. SEBARKAN."

Atau sms ini:

DUKUNGAN UTK UST ABU : Selasa 10-agt-2010 zhuhur Kumpul di Masjid AL-AZHAR Kebayoran berangkat ke Bareskrim Mabes Polri. Sebarkan!

Nampaknya dukungan dan support untuk Ustadz ABB akan terus mengalir dari umat Islam yang telah lama muak dengan berbagai kedzoliman Densus 88 dan merindukan keadilan dan kejujuran syariat Islam ditegakkan di negeri ini. Wallahu'alam bis showab!

(M Fachry/arrahmah.com)

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8667/facebook-ustadz-abb-tembus-ribuan-pendukung#ixzz0w6UtRA00

FPI: Dalang Teroris Aceh Desertir Brimob Bukan Ba'asyir

Jakarta - Front Pembela Islam (FPI) mengaku telah mengidentifikasi kasus teroris di Aceh. Ada rekayasa yang dibuat seorang personel Brimob bernama Sofyan Tsauri.

"Rekayasa terorisme yang dimainkan oleh seorang desertir Brimob yang bernama Sofyan Tsauri," kata Ketua Umum FPI, Habib Rizieq dalam dialog damai di kantor FPI, Jl Pentamburan, Jakarta Pusat, Senin (9/8/2010).

Menurut Rizieq, Sofyan adalah orang yang telah merekrut dan melatih teroris Aceh di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok sejak 2009. Karena itu, pelatihan militer di Aceh tidak ada kaitannya dengan Ustad Abu.

"Kita juga menyerukan kepada umat Islam untuk merapatkan barisan melawan segala kezaliman. Sekaligus melakukan pembelaan hukum terhadap Ustad Abu sesuai UU berlaku," tegasnya.

Rizieq mengatakan, penangkapan Ba'asyir merupakan politik pengalihan isu kasus besar seperti kasus Bank Century, kenaikan TDL, dan rekening gendut Polri. FPI menduga kuat penangkapan Ba'asyir juga merupakan politik rekayasa seperti kasus-kasus rekayasa lainnya seperti kasus Aan, kasus pemulung, dan kasus Gayus.

"Ini merupakan politik pemberangusan terhadap gerakan Islam untuk menakut-nakuti para aktivis Islam yang concern dengan perjuangan penerapan syariat Islam," ungkapnya.

Istri Ba'asyir Dipulangkan

Jakarta - Istri Amir Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir, Aisyah, akhirnya dipulangkan setelah beberapa saat dibawa ke Bareskrim Mabes Polri. Aisyah Ba'asyir dipulangkan bersama istri Wahyuddin, Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki, Solo.

"Istri Abubakar Ba'asyir dan istri Ustad Wahyuddin sudah dipulangkan ke Ponpes Nurussalam milik keluarga Ba'asyir di Cimahi," ujar kuasa hukum Ba'asyir, Mahendradata, kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (9/8/2010).

Sebelumnya diberitakan putra Ba'asyir, Abdurrahim, menyampaikan bahwa ibunya dan istri Direktur Ponpes Ngruki ikut ditangkap bersama Ba'asyir. Kedua wanita ini ditangkap karena kebetulan satu mobil bersama Ba'asyir.

Ba'syir dan rombongan tiba di Mabes Polri sekitar pukul 14.35 WIB, setelah diciduk dari Banjar, Jabar, pada pukul 08.00 WIB.

Ba'syir dituduh terlibat terorisme, termasuk jaringan Aceh maupun yang digerebek di Cibiru, Bandung, pada Sabtu 7 Agustus.

(van/nrl)

Sikap JAT Terkait Penangkapan ABB

SOLO (Arrahmah.Com) - Sekitar pukul 13:15 WIB, bertempat di kantor Jamaah Ansharut Tauhid diadakan jumpa pers dengan para wartawan terkait penangkapan amir JAT Ustad Abu Bakar Ba'asyir.

Melalui keterangan resmi Ansharut Tauhid yang disampaikan Katib ustad Abdurrahman dijelaskan bahwa penangkapan ustad Abu Bakar Ba'asyir dilakukan antara pukul 08:00-08:30 WIB.

Saat itu ustad Abu sedang bersama keluarga menghadiri undangan Tabligh di Bandung, Banjar dan Tasikmalaya. Turut dalam rombongan tersebut adalah istri Ustad Abu yakni Aisyah Baraja, istri ustad Wahyudin (Direktur PP Al Mukmin), sopir dan seorang pendamping ustad Abu.

Dalam pernyataanya JAT jelas sangat menyesalkan penangkapan tersebut karena:

1. Ustad Abu Bakar bukan DPO dalam kasus apapun.
2. Penangkapan ustad dilakukan pada detik-detik menjelang Ramadhan dan pasti akan mengganggu kegiatan dakwah Islam selama Ramadhan.
3. Cara-cara penangkapan seorang ulama sepuh seperti ustad Abu dan dilakukan di jalanan tanpa kejelasan kesalahan adalah merupakan cara-cara biadab dan kasar mirip penyergapan tentara Israel terhadap kapal Turki.
4. Dalam rombongan terdapat wanita-wanita yang sudah tua dan lelah akibat perjalanan darat yang jauh.
5. Ada kesan sangat kuat bahwa penangkapan ini adalah prestasi (credit point) yang dipaksakan menjelang lengsernya Bambang Hendarso Danuri.
6. Dugaan kami ini tidak lepas dari upaya pengalihan berbagai isu terhadap kasus yang menimpa Polri sendiri.

Dengan itu maka Ansharut Tauhid meminta pihak kepolisian agar semua yang ditangkap yakni ustad Abu Bakar Ba'asyir termasuk para wanita, sopir dan pendamping beliau dibebaskan segera tanpa syarat. Dan hingga sekarang Jamaah Ansharut Tauhid tidak mendapatkan laporan penangkapan amir mereka. [muslimdaily/arrrhmah.com]

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8647/ansharut-tauhid-berikan-pernyataan-sikap-terkait-penangkapan-abu-bakar-baas#ixzz0w6pw6xoW

Ba'asyir Tolak Dikaitkan Latihan Militer di Aceh

Jakarta - Tim Pengacara Muslim (TPM) memprotes penangkapan terhadap Abu Bakar Ba'asyir. Alasaanya tidak ada kejelasan dalam kasus pidana terorise apa pemimpin Jamaah Ansuro Tauhid (JAT) itu ditangkap.

"Tidak jelas terlibat terorisme mana dan peristiwa apa," gugat Mahendradatta, salah satu kuasa hukum Baasyir, di Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Senin (9/8/2010).

Tokoh TPM yang ditemui di sela pemeriksaan Ba'asyir ini, mempertanyakan kasus terorisme apa yang dikaitkan kepada kliennya. Sebab setiap tindakan penangkapan harus terkait peristiwa terorisme tertentu.

Mahendra juga menolak Baasyir dikaitkan dengan dugaan tindak pidana terorisme, sebagaimana materi pemeriksaan. Setiap penangkapan, katanya, haruslah terkait peristiwa terorisme tertentu.

"Terorisme harus ada peristiwanya, (seperti) Bom Bali I, Bom Bali II, Kuningan, Ritz Carlton-Marriott," tegas dia.

Menyinggung dikaitkannya Baasyir dengan pelatihan militer di Aceh, ditegaskannya bahwa pelatihan militer tidak diatur dalam UU Tindak Pidana Terorisme. Seandainya ditemukan senjata api dalam pelatihan itu, harusnya dijerat dengan UU Darurat tentang kepemilikan senjata api ilegal.

"Ini bukan masalah Aceh. Dijawab dulu, itu latihan militer masuk kategori apa? Resimen mahasiswa juga ada latihan militer," ujarnya.

Ba'asyir: Ini Rekayasa Amerika

Jakarta - Amir Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT), Abu Bakar Ba'asyir (ABB), ditangkap polisi terkait terorisme. Meski mengaku pasrah, Ba'asyir yakin penangkapan terhadap dirinya merupakan rekayasa Amerika.

Ba'asyir yang mengenakan gamis warna putih, kopiah dan mengenakan jaket hitam ini digelandang puluhan Densus 88 bersenjata lengkap layaknya menangkap teroris. Ba'asyir dibawa ke Mabes Polri dengan Pajero warna hitam L 2752 ED.

"Ini rahmat Allah untuk kurangi dosa, ini rekayasa Amerika," ujar Ba'asyir sesaat sebelum memasuki Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (9/8/2010).

Sebelumnya diberitakan Ba'asyir ditangkap oleh Kepolisian terkait kegiatan kelompok terorisme. Ba'asyir ditangkap di Banjar Patroman, Ciamis, Jabar, ditengah perjalanan pulang ke Solo usai keperluan keluarga di Bandung dan mengikuti sejumlah pengajian. (van/lh)

Polri: Ba'asyir Restui dan Danai Teroris di Aceh

Jakarta - Mabes Polri mengaku memiliki bukti keterlibatan Abu Bakar Ba'asyir dalam serangkaian kegiatan terorisme di Aceh dan Cibiru, Bandung. Pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki itu diduga merestui dan mendanai kegiatan terorisme di Aceh.

"Beliau mengetahui semua kegiatan pelatihan dan rencana di Aceh, secara rutin mendapat laporan dari pengelola lapangan," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang.

Hal itu disampaikan Edward dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (9/8/2010) pukul 13.30 WIB.

Edward mengatakan, keyakinan polisi atas keterlibatan Ba'asyir itu diperoleh dari saksi-saksi yang telah diperiksa. "Berbagai bukti telah meyakinkan," katanya.

Edward mengatakan, Ba'asyir juga diduga telah menunjuk para pemimpin pelatihan militer di Aceh. Termasuk menunjuk pengelola latihan militer dan penanggung jawab kegiatan terorisme itu. (ken/nrl)

Jelang Ramadhan Ba'asyir ditangkap Densus88

SOLO - Amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba’asyir kembali ditangkap Mabes Polri. Ba’asyir ditangkap di Banjar Patoman, Ciamis, Jawa Barat, Senin (9/8) pagi tadi. Keterangan yang dihimpun Wawasan menyebutkan, Ba’asyir ditangkap seusai mengisi pengajian. Pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki, Cemani, Sukoharjo itu ditangkap saat dalam perjalanan dari Jawa Barat menuju Solo.

Salah seorang anak Ba’asyir, Abdurrohim mengatakan, keluarga hingga kini masih kehilangan kontak dengan pimpinan JAT tersebut di kawasan Banjar, Ciamis, Jawa Barat. Sehingga belum mengetahui keberadaan Ba’asyir yang pergi bersama istri dan rombongan keluarga.

”Hingga kini kami masih belum bisa menghubungi ayah kami. Ya, sejak kemarin petang, ketika posisinya masih berada di Banjar, Ciamis,” kata Iim begitu biasa dipanggil ketika dikonfirmasi Wawasan, pagi tadi.

Dikatakan Iim, acara Ba’asyir ke kawasan Jawa Barat tersebut intinya menghadiri undangan keluarga yang ada di sana, yang kebetulan sedang mengadakan hajat. Selain itu memang ada kepentingan lain, yakni urusan organisasi dan pengajian yang diadakan JAT cabang Ciamis Jawa Barat.

Sedangkan menurut Direktur Ponpes Al-Mukmin Ngruki ustad Wahyudin mengatakan, rombongan yang menyertai ustad Ba’syir berjumlah lima orang. Dua di antaranya adalah wanita, yakni Musrikhah istri ustad Ba’asyir dan Aisyah Baraja istri Wahyudin sendiri.

”Rombongan mengendarai mobil Kijang. Ustad Ba’asyir sendiri diduga tangkap aparat di kawasan Banjar Patoman, Ciamis menjelang perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah,” jelas ustad Wahyuddin di Ponpes Al-Mukmin Ngruki.

Masih menurut dia, keberangkatan ustad Ba’asyir ke Bandung merupakan kegiatan rutin, yang tiap dua minggu sekali pergi ke sana. Persisnya di Kampung Kujang Cikoneng Ciamis guna mengisi pengajian di sana.

Tetap tenang
Suasana Ponpes Al-Mukmin yang berada di Desa Cemani Grogol Sukoharjo, hingga saat ini masih dalam kondisi tenang. Sejumlah santri, seakan tidak terusik atau bahkan belum mengetahui adanya dugaan penangkapan ustad pengasuh pondok tersebut. ”Normal saja suasananya. Belum tahu,” ujar seorang santri singkat sambil berlalu.

Mabes Polri membenarkan kabar penangkapan Amir Jama’ah Ansho-rut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba"asyir. Ba"asyir ditangkap terkait kasus terorisme. "Benar, Ba"asyir ditangkap," kata Kabidpenum Mabes Polri Kombes Marwoto Soeto. Menurut Marwoto, Ba"asyir ditangkap terkait kasus terorisme.

Namun, dalam kasus terorisme yang mana dan sejauh mana keterlibatan pengasuh Ponpes Ngruki itu, Marwoto menjelaskan. Menurut Koordinator Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradata, Abu Ba"asyir sudah diincar oleh oleh Densus 88 sejak sebulan yang lalu. "Sudah lama dia diincar. Ke mana-mana beliau diinteli. Semua aktivitas dikait-kaitan dengan terorisme," ujar Mahendradata. Hud-yan

Saturday, August 7, 2010

Densus 88 Sergap Teroris di Bandung & Subang tangkap 3 orang

Jakarta - Kembali Densus 88 kembali melakukan penggerebekan kelompok teroris di Cibiru, Bandung dan Subang, Jawa Barat. Densus 88 mengamankan 3 pria terduga teroris di Jalan Sukaluyu RT 2 RW 12, Pasir Biru, Cibiru, Bandung. Tidak ada insiden tembak menembak dalam insiden itu.

"Yang ditangkap 3 orang," kata Deni Romansyah (29), tetangga depan rumah yang digerebek, di sekitar lokasi, Sabtu (7/8/2010).

Sementara menurut Euis Komariah (30), tetangga yang rumahnya tepat di samping kontrakan itu, mengatakan, saat hendak ditangkap para pelaku sempat hendak kabur.

"Satu ditangkap di dalam rumah. Satu lagi berusaha kabur dan ditangkap tidak jauh dari rumahnya," katanya.

Sementara itu hingga kini ratusan warga masih bertahan di sekitar lokasi kejadian untuk melihat petugas bekerja mengamankan lokasi. Warga memilih berteduh di rumah-rumah sekitar.

Densus 88 juga telah menyita sejumlah benda mencurigakan dari dalam kontrakan pria terduga teroris Hilmi. Barang-barang itu dibawa anggota Densus yang berpakaian hitam-hitam ke dalam kendaraan mereka.

"Tadi ada beberapa jerigen berisi katalis dan resin serta beberapa karung berisi powder resin," kata salah seorang warga, Bambang (39) di lokasi di Jl Saluyu, Cibiru, Bandung, Sabtu (7/8/2010).

Hilmi dan dua temannya, Fahri dan Hamzah kini sudah diamankan Densus 88. Informasi yang diperoleh, ketiganya masih menjalani pemeriksaan intensif terkait dugaan rencana peledakan.

Belum diketahui, para terduga teroris yang ditangkap siang tadi itu, apakah masih berada di Bandung atau sudah dibawa ke Jakarta.

Di Jendi, Selogiri, Mereka Hidup Menghirup Merkuri" Oleh Eddy J Soetopo,

Sudah lebih dari delapan jam Wasiyem, 29 tahun, ia mendulang emas di kali Bakor yang mengular dari perbukitan di dukuh Nglenggong, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri tak sebutir pun ia temukan emas. Padahal biasanya, selama mengayak bongkahan batu yang digali suaminya di perbukitan, sedikitnya ia peroleh 0,021 mili gram. Tapi kali ini Wasiyem tak menemui butiran halus menyilaukan mata itu.

Meski badannya tak kelihatan ringkih, pekerjaan mendulang emas di kali Bakor yang digelutinya selama lebih dari lima belas tahun lalu itu, tak membuatnya ketakutan keracunan mercuri. Wasiyem tak menyadari batuk-batuk kering setiap malam yang sering ia keluhkan, bisa jadi pertanda ia diduga positif teracuni uap hydrogyum (Hg) saat mengayak bongkahan pasir yang dicampur air raksa.

Wasiyem dan para penambang ilegal lain di Jendi tidak menghiraukan resiko keracunan mercuri. Yang ia tahu, paparnya, ketiga anaknya memerlukan makan dan biaya sekolah. Satu dari tiga anak Wasiyem ada yang telah menamatkan pendidikan di STM Bhineka, di Kabupaten Wonogiri. Dua anaknya yang lain masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Itu semua memerlukan biaya yang tidak sedikit. Wong semua serba mahal,” ujar Wasiyem seraya menambahkan, “Semua pekerjaan ada resikonya. Saya sering dengar raksa –maksudnya air raksa (Hg) – bisa mempercepat kematian. Tapi bagaimana lagi. Kalau dilarang, terus siapa yang akan menanggung kehidupan keluarga kami? Pak bupati mau tanggung’kan ya tidak. Hidup mati itu Gusti Allah yang menentukan.”

Fenomena penambangan emas ilegal yang dilakukan secara tradisional dengan teknik amalgamasi –proses penyelaputan partikel emas menggunakan air raksa– sulit dimengerti ancaman bahaya yang akan ditimbulkannya. Maklum saja Wasiyem dan kebanyakan para penambang di Jendi hanyalah tamatan sekolah menengah pertama. Meski penyuluhan berulang kali telah dilakukan oleh Suku Dinas Kesehatan dan Lingkungan Kabupaten Wonogiri, toh para penambang emas di sekitar perbukitan Jendi itu tak menghiraukan keselamatan dirinya.

“Instansi kami tidak kurang-kurang memberikan penyuluhan pada warga sekitar penambang illegal di Jendi. Tapi mereka tidak mempedulikan keselamatan dirinya. Padahal hasil penelitian di daerah lokasi penambangan dinyatakan positif tercemar limbah beracun mercuri,” ujar Purwadi Sumarsono Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan. “Bahkan kami sering menggunakan contoh akibat keracunan mercuri dengan pemutaran film kasus Minamata di Jepang.”

Menurut Purwadi hasil penelitian terhadap 53 sumur milik warga, diketahui 60% mengandung zat merkuri sehingga tidak layak dikonsumsi sebagai air minum. Yang lebih mengejutkan, ujar Purwadi hasil pemeriksaan darah warga di sekitar lokasi penambangan menunjukkan 30% dari 200 orang warga yang diperiksa kandungan merkuri telah melebihi ambang batas toleransi.

“Hasil pengecekan darah 200 warga yang tinggal di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Wonogiri menunjukkan 30 persen dalam sel darahnya mengandung merkuri melebihi ambang batas toleransi yaitu lebih dari 50 microgram per liter,” kata Purwadi Sumarsono ketika ditemui di kantornya, Jumat [16/07] lalu.

Tidak hanya itu, ujar Purwadi, yang mengkawatirkan banyak sumur warga yang terdapat di sekitar desa Jendi juga telah tercemar kandungan merkuri melewati batas ambang aman. Bahkan, menurut hasil penelitian yang dilakukan Puskemas Jendi menyebutkan, kandungan merkuri yang terdapat di dalam surmur warga telah mencapai 0,0001 mg/liter. “Kalau persentase sudah sedemikian tinggi, rasa air sumur pait dan tidak bisa diminum,” tandas Purwadi mengutib hasil penelitian dr Pitut Kristiyanto Kepala Puskesmas Jendi yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Meski demikian, papar Purwadi lebih lanjut pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa, selain memberikan isyarat terkait keamanan yang menyangkut kesehatan lingkungan. Ia menyadari, persoalan pencemaran yang disebabkan penambangan illegal, merupakan masalah kemiskinan. Memang agak sulit mengurai cara penyelesaian terbaik bagi penyelesaian temuan hasil penelitian dengan kondisi social ekonomi masyarakat setempat.

“Agak sulit mencari titik temu agar para penambang emas menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat keracunan merkuri di satu sisi, dan kebutuhan ekonomi keluarga warga desa berjalan dengan baik tanpa menambang emas menggunakan merkuri,” papar Purwadi seraya menambahkan, “Pokok persoalan sebenarnya terkait kemiskinan.”

Apa yang dikatakan Purwadi Suwarsono, pejabat yang baru berdinas sekitar tiga bulan itu, tidaklah berlebihan. Bila dilihat dari peta lokasi penambangan di desa di sekitar perbukitan Jendi kondisi perkampungan warga tidaklah seramai seperti saat ini.

Wasiyem bukanlah satu-satunya pendulang emas di hulu sungai Bagor yang kini tak lagi mengalirkan serpihan lempeng tanah bertabur bulir emas, sisa-sisa penambangan illegal warga setempat. Padahal sepuluh tahun lalu, ujar Daryatno, 32, suami Wasiyem, pendapatan dari menambang emas di perbukitan mampu diperoleh 0.5-1 gram butir emas.

“Kalau dulu bisa memperoleh 05 gram sampai 1 gram butiran biji emas. Hasilnya pun lumayan besar, setelah dikurangi untuk ongkos makan sehari-hari dan membeli air raksa,” katanya. “Dua anak saya telah tamat dari STM berkat kerjaan mendulang emas di Kali Bagor,” ujarnya seraya menambahkan, “Sebelum banyak pendatang dari luar kota menambang emas di perbukitan ini, pendapatan kami lumayan besar. Sekarang mendapat 1 mili gram saja sulitnya minta ampun. Harus berkubang dalam air berjam-jam.”

Kondisi sulit seperti yang dialami Wasiyem juga dialami penambang lain, Sri Utomo, 29 tahun. Menurutnya, kurang lebih 3-4 tahun hasil galian yang diperolehnya tidak dapta diharapkan memperoleh kilauan bijih emas. Padahal kebutuhan hidup sehari-hari untuk makan dan membeli keperluan pengilingan bebatuan dan air raksa semakin tinggi. “Agak sulit memperoleh hasil gilingan berupa serpihan biji emas. Kalau dulu bisa diharapkan, sekarang susah. Apalagi bahan pemilah emas seperti air raksa harganya mahal. Terpaksa utang kiri-kanan untuk mencukupi biaya hidup,” ujar tamatan SMP dengan menerawang. “Kalau uap raksa setiap hari menghirup, tapi belum tentu memperoleh biji emas.”

Tidak hanya soal keracunan merkuri yang kini sedang dialami para penambang emas di Jendi. Mereka pun juga harus berebut menggali perut bumi di Jendi. Kalau dulu, ujar Sugiyanto, tidak banyak yang melakukan penambangan tradisional di Jendi. Tapi sekarang terdapat sekitar 125-an pengelola tambang rakyat. “Bukan perkara mudah mengelola dan mengawasi para penambang sebanyak itu.” (eddy j soetopo)

Friday, August 6, 2010

TNI siap lawan teroris pada HUT RI 2010

-Solo-TNI AKAN GANDENG POLRI UNTUK ANTISIPASI SERANGAN TERORIS PADA PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN RI 17 AGUSTUS/ BAHKAN PASUKAN PENEMBAK JITU JUGA AKAN DISIAGAKAN//



PANGLIMA TNI JENDERAL DJOKO SANTOSO/ MENYATAKAN PIHAKNYA TELAH MENGANTISIPASI BERBAGAI ANCAMAN TERORIS YANG MUNGKIN DILAKUKAN PADA PERINGATAN HARI KEMDERKAAN RI 17 AGUSTUS DENGAN SASARAN PRESIDEN WAKIL PRESIDEN/ PEJABAT NEGARA DAN UNDANGAN VVIP//

TNI AKAN BEKERJASAMA DENGAN POLRI YANG SELAMA INI TELAH BERHASIL MEMRINGKUS PARA TERORIS YANG DIDUGA AKAN MENGANCAU KEAMANAN PADA UPACARA PERINGATAN HARI KEMDERKAAN RI 17 AGUSTUS MENDATANG//

TNI SENDIRI JUGA AKAN MENINGKATKAN PENGAMANAN DI LINGKUNGAN ISTANA BAHKAN TERHADAP PRESIDEN/ DAN WAKIL PRESIDEN BESERTA KELUARGANYA//



KESIAPAN TNI INI DIDASARKAN/ PASCA PENANGKAPAN SEJUMLAH TERORIS OLEH POLISI YANG KEMUDIAN DITEMUKAN DOKUMEN YANG BERENCANA AKAN MELAKUKAN PEMBUNUHAN MASSAL PADA UPACARA 17 AGUSTUS 2010// BAHKAN PARA TERORIS JUGA TELAH MENYIAPKAN PENEMBAK JITU DALAM RENCANA AKSINYA//


SEMENTARA ITU/ DJOKO SANTOSO JUGA MENYAMPAIKAN TENTANG BAKU TEMBAK ANTARA TENTARA ISRAEL DAN LEBANON MERUPAKAN INSENDEN ANTARA TENTARA LEBANION DAN TENTARA ISRAEL/ DI ZONA TEMPAT PENUGASAN TENTARA INDONESIA BATALION/ SUDAH REDA/ DAN APA YANG DILAKUKAN TENTARA INDONESIA SUDAH SESUAI PERATURAN PELIBATAN DAN PERINTAH POS KOMANDER TENTARA PBB UNTUK BERGESER AGAR BISA OSSERVASI//


PERNYATAAN PANGLIMA ASAL SOLO INI/ DIKATAKANNYA SESUAI MERESMIKAN MONUMEN PATUNG MAYOR ACHMADI/ YAITU TOKOH PEJUANG TENTARA PELAJAR YANG BERJASA DALAM KEMENANGAN MENGUSIR BENLANDA PADA SERANGAN EMPAT HARI DI SOLO//



9 Pimpinan Ponpes diperiksa polisi sragen

Sragen (Espos)–Sebanyak sembilan orang pimpinan pondok pesantren (Ponpes) dan madrasah diperiksa sebagai saksi di Mapolres Sragen, Kamis (5/8), terkait dugaan penyunatan bantuan sosial (Bansos) yang menyeret oknum legislator berinisial AS.

Berdasarkan hasil gelar perkara di Polda Jateng, kasus Bansos tahun 2008 itu ditingkat dari penyelidikan menjadi penyidikan. Sebagian mereka diperiksa mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.45 WIB.

Sebagian lainnya diperiksa sampai pukul 13.00 WIB. Sejumlah pimpinan Ponpes itu berasal dari Ponpes Nurul Huda Sumberlawang, Ponpes Tarbiyatun Nasiin Sumberlawang, dua madrasah di Mondokan, sejumlah Ponpes di Kedawung, Gesi dan Tangen.

“Mereka diperiksa penyidik sebagai saksi sekaligus membuat laporan polisi tentang kasus tersebut. Pertanyaan yang diberikan penyidik hampir sama dengan klarifikasi sebelumnya, yakni mengarah pada sumber dana dan peruntukan dana Bansos itu. Jadi tidak ada yang baru,” ujar salah satu pimpinan Ponpes Tarbiyatun Nasiin, Ngadiman saat dijumpai Espos, Kamis kemarin.

trh

Puasa Diskotek Solo tidak ditutup

Solo (Espos) – Pemkot Kota Solo tak menutup sejumlah tempat usaha hiburan dan kafe selama sebulan penuh sebagaimana permintaan Ormas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS). Sebagai institusi yang dituntut bisa mengayomi kemajemukan, Pemkot mengaku tetap berpegang pada Perda No 4 Tahun 2002 tentang Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum.

“Kalau ditutup sebulan penuh, lantas bagaimana nasib mereka. Mereka lantas mau makan apa?” kata Sekda Budi Suharto ketika ditemui Espos usai menerima sejumlah pengurus LUIS di ruang kerjanya, Kamis (5/8).

Dalam pertemuan tersebut, LUIS menyampaikan sejumlah permintaan kepada Pemkot Solo menjelang Ramadan nanti. Sejumlah permintaan itu antara lain menutup semua tempat hiburan—cafe, pub, diskotik dan tempat yang diindikasikan sarang maksiat—selama sebulan penuh.
Selain itu, mendesak Satpol PP agar menertibkan warung-warung yang menjual makanan secara terbuka, membuat edaran tidak merokok di sembarang tempat, dan meminta warung makan agar barang dagangannya tak kasat mata. “Ini aspirasi kami demi menghormati bulan suci Ramadan,” tegas Ketua LUIS, Edi Lukito usai rapat.

Selain melayangkan surat pemberitahuan kepada Pemkot, LUIS juga mengaku melayangkan surat kepada aparat kepolisian. Hal tersebut dilakukan agar langkah mereka tak disangka masyarakat sebagai hakim jalanan. “Kami tak akan melakukan aksi di jalanan selama aparat penegak aturan menjalankan aturan sebagaimana mestinya,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tak segan bertindak sesuai aturan mereka jika aparat kepolisian atau aparat penegak hukum lainnya tak bertindak atas segala hal yang mereka nilai berbau maksiat. “Sebab, kami sudah sampaikan. Kalau masih saja tak digubris, maka kami yang akan menjalankan aturan kami,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Sekda Budi mengaku masih akan membicarakan dengan intansi terkait. Meski demikian, pihaknya tak setuju jika penutupan tempat hiburan tersebut dilakukan selama sebulan penuh. “Kita kan punya Perda yang mengatur. Kalau harus ditutup selam sebulan penuh, bagaimana nasib pekerjanya,” paparnya.

Senda dengan Kepala Satpol PP, Hasta Gunawan. Menurutnya, persoalan yang terpenting ialah memberikan solusi, bukan sekadar menutup tempat usaha. “Kalau sekadar menutup ya gampang, tapi solusinya seperti apa?” terangnya.

asa

Kabur dari Perang Pakai Taksi, Dua Prajurit TNI Dikecam Media Libanon

Jakarta (voa-islam.com) -Media Libanon mengecam pasukan perdamaian PBB di Libanon atau UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyusul pertempuran yang terjadi di perbatasan Israel dan Libanon pada Selasa, 3 Agustus lalu.

Sebelumnya, stasiun televisi milik Hizbullah, Al-Manar pada 3 Agustus lalu menayangkan gambar dua prajurit Indonesia yang diduga berasal dari UNIFIL, meninggalkan lokasi pertempuran dengan menumpang taksi. Demikian seperti diberitakan situs Almanar.com, Kamis (5/8/2010).

New TV, yang juga bersimpati pada Hizbullah, membahas "kaburnya" prajurit-prajurit UNIFIL tersebut. Tak ayal hal itu menimbulkan kecaman media Libanon. Harian As-Safir misalnya, menyebut pasukan UNIFIL "impoten".

..."Pasukan internasional yang impoten itu mundur, meninggalkan tempat pertempuran dan menonton peristiwa yang terjadi dari kejauhan," tulis As-Safir...

"Pasukan internasional yang impoten itu mundur, meninggalkan tempat pertempuran dan menonton peristiwa yang terjadi dari kejauhan," tulis As-Safir.

Sedangkan harian Al-Anwar mengejek bahwa UNIFIL menjalankan perannya dengan sangat baik ketika keadaan tenang. "Tapi ketika konfrontasi terjadi, mereka cuma penonton yang menghubungi kedua pihak untuk mencoba mengembalikan ketenangan dan kemudian memasukkan laporan ke Dewan Keamanan," tulis media Libanon tersebut.

Harian An-Nahar menuliskan: "Pertanyaannya, apa yang dilakukan jika insiden ini terulang lagi... khususnya menyangkut peran UNIFIL." "Mengapa UNIFIL tidak membantu pasukan, setidaknya dengan memberikan pertolongan pertama?" tanya media tersebut.

Baku tembak antara pasukan Israel dan Libanon pada Selasa, 3 Agustus lalu. Menurut versi media Libanon, pertempuran itu menewaskan tiga warga Libanon, dua prajurit Libanon, seorang wartawan surat kabar Al-Akhbar dan seorang perwira senior Israel.

UNIFIL memiliki sekitar 13.000 tentara dari berbagai negara yang ditempatkan di Libanon selatan. Pasukan multinasional tersebut dibentuk pada tahun 1978 untuk memonitor perbatasan antara Israel dan Libanon selatan.

Kontak Senjata Memang di Wilayah Penjagaan Indonesia

Dalam kontak senjata yang menewaskan lima orang itu. TNI membantah pasukan perdamaian Indonesia melarikan diri, namun wilayah itu memang wilayah jaga pasukan perdamaian dari Indonesia.

..."Itu kan insiden, antara militer Libanon dan Israel di wilayah Indonesia, wilayah kita diberi penugasan," ujar Djoko Santoso...

"Itu kan insiden, antara militer Libanon dan Israel di wilayah Indonesia, wilayah kita diberi penugasan," ujar Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso kepada wartawan di Istana Bogor, Kamis (5/8/2010).

Djoko mengatakan tentara kita tidak ikut terlibat konfrontasi karena bertugas sebagai pasukan perdamaian. "Ada mekanismenya tentara kita lapor ke post commander, dan post commander lapor ke kedua belah pihak," tutur Djoko.

Bukan Kabur, Cuma Berlindung di Balik Bangunan

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso membantah bahwa prajuritnya kabur dari perang.

..."Bukan kabur, tapi pasukan kita berlindung di balik bangunan itu," ujar Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso...

"Bukan kabur, tapi pasukan kita berlindung di balik bangunan itu," ujar Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso kepada wartawan di Istana Bogor, Kamis (5/8/2010).

Djoko mengatakan, tentara Indonesia adalah tentara perdamaian, jadi tidak boleh ikut konfrontasi. Tentara perdamaian bertugas melerai sebelum kontak senjata terjadi. "Kita kan tentara perdamaian. Itu kan ada mekanismenya," terang Djoko.

Lebih lanjut, Djoko menjelaskan bahwa mekanisme sebagai petugas perdamaian, adalah melaporkan ke post commander, lalu post commander yang melaporkan ke kedua belah pihak yang bertikai.(Ibnudzar/dto).

Thursday, August 5, 2010

Siswa Tk Al Azhar 28 Solobaru sambut Ramadhan

















Sukoharjo_Suasana di sekolah Kb /Tk Al Azhar 28 Solo baru, Sukoharjo, Jawa tengah, Jumat pagi, beda dari biasanya, ratusan anak-anak siswa playgroup dan tk turun ke jalan menGgelar kampanye. Dngan spanduk dan poster poster mereka mengkampanyekan bulan Ramadhan.

Dengan didampingi guru mereka, ratusan anak-anak ini berjalan berkeliling sekitar sekolahan, untuk mengajak warga sekitar dan para pengguna jalan untuk berpuasa dan berbuat amal kebaikan di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.

Meskipun mereka ini masih tergolong anak-anak yang belum wajib berpuasa, namun sejumlah anak mengaku akan berpuasa di bulan suci bagi umat islam ini/ seperti Vania Khoirunnisa, siswi tk b yang juga akan berpuasa di bulan ramadhan tahun ini.

“ Saya Insyaallah juga akan berpuasa, semoga bias penuh,” ujar Icha panggilan akrabnya.

Sementara itu, menurut salah satu guru tk, Bu Nora/ kegiatan ini dimaksudkan agar para siswa lebih paham tentang makna puasa dan berbuat baik di bulan ramadhan, terutama untuk menanamkan rasa berbagi kepada sesama.

“ Menanamkan rasa berbagai kepada anak apalagi di bulan Ramadhan, agar anak-anak lebih banyak lagi berbuat amal baikj,” kata Bu Nora.

Selain mendengarkan orasi dari bu guru, tentang makna puasa dan bulan Ramadhan, anak-anak ini juga membagikan kurma kepada pengguna jalan yang kebetulan lewat di depan sekolah mereka, banyak pengguna jalan yang kaget karena dihadang anak-anak ini.





Kostum 11 negara Asean bakal ramaikan SBC 2019

KITABSOLO- Ajang tahunan Solo Batik Carnival (SBC) kembali dihelat di Solo, Jawa Tengah. Penyelenggaraan SBC ke XII tahun ini ber...