Wednesday, July 29, 2009

sekolah mahal?

Pendidikan, sekolah memang mahal, dan tidak bisa murah… Masalahnya adalah seberapa besar beban pembiayaan pendidikan yang dibebankan kepada peserta didik. Di banyak negara, khususnya di negara yang pemerintahannya mengerti pentingnya pendidikan, pemerintah menanggung sebagian besar beban anggaran penyelenggaraan sekolah, sehingga beban yang ada di peserta didik bisa ringan… Bukan berarti pendidikan itu murah, tapi beban pembiayaan pendidikan tidak sepenuhnya berada di tangan peserta didik.



Dalam sebuah bincang-bincang tentang pendidikan dengan oom Mul (bpk. MM. Purbohadiwijoyo - yang juga seorang pendidik), beliau mengajak saya untuk hitung-hitung besaran gaji guru saat beliau sekolah di jaman belanda dulu. Guru beliau waktu SD adalah seorang yang bergelar doktor di bidang fisika… bukan main-main. Seorang pendidik sejati, ilmuwan yang mendedikasikan dirinya ke pendidikan dasar… Mungkin ini suatu gambaran bahwa pendidikan (dasar) adalah sebetulnya pekerjaan yang perlu ditangani luar biasa serius.



Kembali ke soal hitung-hitungan tadi, ternyata dulu gaji guru oom Mul tersebut kalau sekarang dirupiahkan adalah setara dengan tujuh juta rupiah… Angka yang fantastis… sebuah impian dalam realita penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi itulah gambaran sederhana bahwa sebetulnya pendidikan yang baik itu tidak bisa murah. Dan saya kira hal ini sekarang berlaku di mana-mana… tidak bisa kita mendapatkan sesuatu yang baik dengan harga yang murah…

Sekarang ini, saat saya mencoba berhitung secara ideal untuk pembiayaan sebuah sekolah, dimana satu kelas yang diselenggarakan menampung 25 orang anak dan ditangani oleh 2 orang guru, dimana guru dikompensasi secara cukup baik dalam perhitungan biaya hidup saat ini, ditambah penyediaan fasilitas pembelajaran yang baik (seperti halnya buku-buku perpustakaan, alat-alat bantu pembelajaran, alat peraga yang memadai, mungkin ditambah fasilitas audio visual dan penyelenggaraan outing secara berkala) maka ditambah lagi dengan pengembangan sekolah tersebut, adalah tidak mungkin kita bicara sekolah murah.



Dalam sudut pandang guru, guru yang ideal kita harapkan mampu memfasilitasi proses pembelajaran anak semaksimal mungkin. Maka harus disadari bahwa kita menuntut banyak dari guru tersebut dalam hal kemampuan dan proses pengembangan dirinya, belum lagi masalah dedikasi dan profesionalismenya sebagai guru. Seorang guru tidak bisa tidak harus mendedikasikan waktu dan komitmennya secara penuh dalam proses mempersiapkan diri dan selama mendampingi anak belajar. Tapi realita yang sekarang umumnya terjadi adalah karena tidak memadainya penghasilan guru, pada umumnya mereka mencari tambahan penghasilan dari les-les privat atau dari 'obyekan' lainnya. Ini seharusnya tidak boleh terjadi kalau memang kita ingin performa guru di kelas sehari-hari maksimal adanya. Sederhananya, kita tidak mungkin menuntut banyak kepada para guru kalau kita sendiri tidak bisa memberikan penghargaan yang memadai kepada para guru, (termasuk untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka sendiri secara baik). Kita tidak mungkin menuntut profesionalisme, saat kita tidak bisa atau tidak mau menghargai jasa para guru secara profesional.



Karena faktor rendahnya penghargaan terhadap profesi guru, entah sudah berapa lama profesi guru menjadi profesi yang sangat tidak bergengsi di masyarakat kita. Hampir tidak ada 'orang-orang berkualitas' yang memilih mengambil profesi guru atau pendidik. Mereka lebih suka jadi insinyur atau dokter atau ekonom. Kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang ini mayoritas guru adalah mereka-mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk masuk ke pendidikan tinggi, atau tidak punya alternatif profesi lain sehingga terpaksa menjadi guru. Dengan tidak memperhitungkan buruknya kualitas pendidikan guru di Indonesia, kita punya para guru yang kebanyakan tidak punya jiwa dan dedikasi sebagai pendidik, mereka yang terpaksa menjadi guru. Ditambah rendahnya gaji guru, semua itu berakumulasi dan berakibat rendahnya mutu dunia persekolahan kita.



Yang diuraikan di atas tadi adalah persoalan klasik dunia persekolahan di Indonesia. Terus berulang di setiap generasi, dimana kita selalu saja mendengar ungkapan 'Sekolah itu Mahal'. Tapi saya kira seharusnya hal ini tidak akan banyak dipersoalkan kalau memang dunia persekolahan kita berperan dengan baik dan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya; kalau dunia persekolahan kita berhasil menggali prestasi yang sejati dari para peserta didik. Tetapi hal ini-lah yang justru tidak terjadi. Dan ini adalah masalah pertama. Sekolah kita terlepas dari mahal ataupun murahnya, ternyata belum berhasil berfungsi dengan baik. Yang ada hanyalah filosofi pendidikan yang tidak jelas, arah dan kerangka kurikulum yang tidak menentu, program pembelajaran di sekolah yang semakin menekan anak dan lain sebagainya. Untuk melengkapi kegiatan persekolahan anak, orang tua khususnya di kota-kota besar, harus melengkapi anak dengan berbagai les-les tambahan atau yang parah bahkan membawa anak berkonsultasi ke psikolog karena ketertekanan anak di sekolah. Pendidikan secara tidak langsung akhirnya memang menjadi mahal.



Format Persekolahan Baru
Yang parah, sebelum kita sempat mencari solusi dari isu sekolah mahal tadi, situasi permasalahan justru diperrumit dengan hadirnya format-format baru di dunia persekolahan kita. Sekolah-sekolah baru bermunculan dengan istilah dan kemasan serba mutakhir. Sekolah yang disebut-sebut dengan 'sekolah plus' atau 'sekolah nasional' ataupun lainnya, yang menawarkan pendekatan baru kegiatan persekolahan seperti full-day school ataupun sekolah bilingual dan lain sebagainya…
Disamping itu, bermunculan pula sekolah-sekolah waralaba yang datang dari luar Indonesia. Sekolah-sekolah yang dijual dengan merek dagang impor dan segala atribut yang mengikutinya. Sekolah-sekolah ini sejak dilaunch, ditampilkan serba gemerlap dengan fasilitas serba wah, dengan program-program yang tampaknya luar biasa canggih… Kesemuanya dikemas dalam tampilan promosi dan 'advertising' yang mempesona seperti layaknya komoditi konsumsi lainnya.



Sementara persoalan dunia persekolahan 'tradisional' belum bisa dipecahkan, tanpa sadar masyarakat khususnya di kota-kota besar digiring ke persepsi bahwa munculnya format sekolah-sekolah baru ini adalah solusi dari persoalan dunia persekolahan di Indonesia. Dan karena format-format persekolahan baru ini hampir selalu dibarengi dengan biaya pendidikan yang mahal, bahkan sangat mahal untuk ukuran kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat Indonesia, maka ungkapan 'Sekolah itu Mahal' sepertinya semakin terjustifikasi.



Akhirnya masyarakat seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Kalau mau sekolah yang baik, ya bayarlah malah, ekstra mahal. Dan kalau tidak mampu, ya terimalah sekolah apa adanya, 'sekolah yang biasa' beserta persoalan-persoalan yang mengiringinya selama ini.

Sekolah-sekolah baru ini tidak banyak disadari pada awalnya dikembangkan oleh para pebisnis, yang hampir pasti dilatar-belakangi motivasi bisnis. Apakah betul membawa misi pendidikan atau diarahkan sebagai solusi atas permasalahan dunia persekolahan adalah tanda tanya besar. Rasanya sah juga berpikir bahwa munculnya sekolah-sekolah tadi adalah terutama atas motivasi menghasilkan untuk semata.



Bisnis Pendidikan?
Mencermati sekolah-sekolah baru tadi, muncul satu isu baru mengenai 'bisnis pendidikan'. Istilah ini semakin marak akhir-akhir ini. Tapi kalau kita mencoba kritis, hal ini adalah sesuatu yang sebetulnya menyesatkan. Pendidikan dalam arti sesungguhnya tidak mungkin diselenggarakan atas motivasi bisnis. Karena bisnis dalam pengertian kegiatan usaha selalu berorientasi pada keuntungan yang akan diperoleh pemilik modal atau pemegang saham. Jadi kalau seseorang atau sekelompok orang merintis kegiatan pendidikan untuk memperoleh keuntungan, misi dan selanjutnya kualitas pendidikan boleh sangat dipertanyakan. Karena apapun kemasannya, bisnis selalu berorientasi pada akumulasi keuntungan. Apapun yang dilakukan lembaga ini akan selalu berdasarkan pertimbangan keuntungan. Keuntungan adalah motif utamanya. Sekolah-sekolah ini berdiri di atas landasan kapitalisme.



Di sisi lain, pendidikan yang kita kenal sejak dahulu (sekolah tradisional) adalah gerakan pelayanan. Terlepas dari baik-buruknya kualitas persekolahan kita, dunia persekolahan kita sejak dulu membawa semangat pelayanan, apakah itu yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta.

Akhirnya sekarang, dunia persekolahan tradisional mau tidak mau berhadapan dengan sekolah-sekolah baru yang berorientasi bisnis, dimana kompetisi adalah salah satu kata kunci yang dipegang erat didalamnya. Dan menjadi sangat mengkuatirkan kalau semangat pelayanan mulai sekolah-sekolah kita yang tradisional mulai bergeser ke hal-hal yang berbau bisnis terutama untuk ikut serta dalam arus kompetisi yang semakin intens ini. Sebagai penyedia jasa, memang sekolah-sekolah sangat tergantung pada cara pikir dan perilaku konsumennya. Dan saat ini kelihatannya mulai menjadi sulit bagi sekolah-sekolah tradisional untuk mendapatkan murid saat sekolah-sekolah modern ini sangat fasih memikat masyarakat untuk beralih mengkonsumsi produk-produk mereka (apalagi kita tahu masyarakat kita sifat konsumerismenya semakin lama semakin tinggi).



Penyelenggaraan sekolah, dalam bentuk apapun harus dikelola (dimanage) dengan baik dan harus menghasilkan dana. Dana itu digunakan untuk menutup biaya operasional sekolah (termasuk menggaji dengan layak pengelola dan guru juga menyediakan fasilitas pembelajaran yang baik) dan mempertahankan kesinambungan penyelenggaraan sekolah tersebut. Dititik ini penting disadari bahwa perbedaan sekolah-sekolah tradisional dengan sekolah-sekolah modern adalah dalam hal pengelolaan dana. Sekolah yang bergerak dalam pelayanan pendidikan (seharusnya) memanfaatkan sisa dana untuk pengembangan lanjut program-program pendidikan lainnya. Dana yang terakumulasi kembali dituangkan kembali untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan lainnya.



Bisnis pendidikan, sebaliknya akan membagikan sisa dana kepada pemilik modal atau pemegang saham. Karena bagaimanapun itu adalah tujuan akhirnya. Saat pelayanan pendidikan seharusnya tidak dibatasi dalam kerangka pengembalian investasi, pemilik modal akan berada dalam frame pengembalian investasi (ROI - Return of Investment) sebagaimana halnya bidang usaha lainnya. Bisnis pendidikan sedikit banyak akan mengorbankan banyak hal yang mengurangi keuntungan. Sedangkan pelayanan pendidikan seharusnya memfokuskan pengelolaan dana untuk kepentingan pelayanan dan tidak terpaku dalam kerangka waktu atau pola-pola pengembalian investasi… Pendidikan yang sesungguhnya tidak mungkin digabungkan dengan bisnis, karena bagaimanapun spiritnya berseberangan.



Lalu Bagaimana?
Masih jauh jalan kita mengatasi persoalan dunia persekolahan, yang semakin kisruh dengan perkembangan akhir-akhir ini. Satu-satunya cara mengatasi rumitnya persoalan dunia persekolahan kita saat ini adalah dengan membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat. Dan atas pemahaman tersebut masyarakat akan menjadi kritis dan mampu menentukan pilihannya sendiri. Yang harus melakukannya adalah sekolah-sekolah tradisional ini sendiri. Karena merekalah yang seharusnya faham tentang esensi dunia pendidikan.



Dan dalam situasi ini, sekolah-sekolah tradisionallah yang sedang dalam posisi terancam dan nyaris terseret arus 'bisnis pendidikan' yang menyesatkan masyarakat. Sekolah-sekolah tradisional harus mampu dalam segala keterbatasannya membuktikan semangat pelayanannya dan tidak terseret arus kompetisi bisnis yang akhirnya mengorbankan peserta didik. Tentunya untuk menyikapi situasi ini, sekolah-sekolah tradisional harus belajar lagi supaya mampu berkompetisi dengan cara tidak langsung dan tetap memperjuangkan spirit pelayanan dan esensi pendidikan yang sesungguhnya.







Andy Sutioso

Siswi SMA jadi korban perkosaan hingga hamil

Solo (Espos) Seorang siswi SMA di Solo, MZ, 15, warga Banjarsari, Solo menjadi korban pelampiasan nafsu seksual yang diduga dilakukan oleh GB, warga Solo. Saat ini, korban telah hamil enam bulan.


Kasus tersebut dilaporkan ke Poltabes Solo, Rabu (29/7). Informasi yang dihimpun Espos menyebutkan, peristiwa bermula saat orangtua korban pergi ke Jakarta sejak Januari 2009 lalu.
Ketika itu, korban tinggal bersama neneknya di Banjarsari, Solo. Saat orangtua korban kembali dari Jakarta Juni lalu, korban sudah dalam kondisi hamil enam bulan.
Karena tidak terima, orangtua korban melapor ke Poltabes Solo. Kasus tersebut ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Poltabes Solo.
Pelaku dijerat dengan Pasal 81 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 287 KUHP tentang Persetubuhan dengan Anak di Bawah Umur. ”Setelah laporan, korban langsung divisum,” ungkap seorang petugas Poltabes Solo.
Sebelumnya, kasus yang sama menimpa seorang siswi salah satu SMA di Simo, Boyolali, DP, 15, warga Andong, Boyolali. DP menjadi korban pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh temannya, HA, 22, warga Boyolali.
Sebelum melakukan perbuatan tersebut, pelaku sempat mencekoki korban dengan minuman keras (Miras). Kasus tersebut ditangani Polwil Surakarta, Selasa (28/7).
Korban didampingi penasihat hukumnya, Dina Ardiyanti SH langsung menjalani pemeriksaan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polwil Surakarta. Menurut Dina, kasus tersebut terjadi Januari 2009 lalu dan saat ini korban sedang dalam kondisi hamil enam bulan. - Oleh : dni

Saturday, July 25, 2009

Alumni Ngruki Diteror

SOLO-Sejumlah alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Sukoharjo mengaku diteror oleh orang tidak dikenal. Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Front Perlawanan Penculikan (FPP) Kholid Saifullah.

Ditemui di tempat kerjanya di kompleks Gedung Umat Islam, Jl. Kartopuran Nomor 241 Solo, Sabtu (25/7) kemarin, dia mengatakan teror yang dialami sejumlah alumni Ponpes Al Mukmin itu, terkait dengan isu terorisme. "Indikasinya sangat kuat, ada rangkaian yang jelas dari berbagai peristiwa teror yang dialamatkan kepada para alumni," ujar Kholid kemarin.

Dari data yang telah dihimpun, sejak beberapa pekan terakhir, Kholid mengaku sedikitnya ada 15 alumni Ponpes Al Mukmin yang merasa tidak nyaman lantaran menjadadi sasaran teror dari sejumlah oknum yang tidak dia sebutkan identitasnya. "Mereka yang menjadi sasaran teror adalah para alumni angkatan 1991-1999. Teror yang mereka alami tidak hanya sekadar psikis, Melainkan sudah sampai pada tahap fisik," kata dia.

Ditambahkan Kholid, teror yang paling nyata dialami Tamrin Ahmad, warga Grogol, Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus. Dia adalah alumnus angkatan 1991. Pada Kamis (23/7) lalu dia ditabrak mobil yang sejak pagi diketahui mondar-mandir di sekitar rumahnya. Saat kejadian korban yang sehari-hari menjadi pengajar salah satu madrasah dan aktif menjadi penceramah itu hendak menuju Semarang dengan mengendarai sepeda motor.

Sesampai di kawasan Bintoro, Demak, dirinya tiba-tiba dipepet oleh enam orang pengendara sepeda motor jenis tanpa memasang plat nomor. Sementara dari bagian belakang sudah ada mobil yang akhirnya menabrak dirinya. "Mobil tersebut tidak lain adalah mobil yang sejak pagi mondar-mandir di sekitar rumah Tamrin. Selain itu, rombongan keenam pengendara pengendara yang sebelumnya memepetnya jelas bukan orang biasa," kata dia.

Selain di Kudus, Kholid juga mengaku masih ada sejumlah alumni Ngruki yang mengaku merasa tidak nyaman dan didiskriminasikan oleh sejumlah pihak. "Tidak hanya di Kudus, teror tersebut juga dialami para alumni yang masih tinggal di Solo atau asli warga Solo," tandas Kholid.

Selain terus berkoordinasi dengan jaringan Tim Pengacara Muslim di berbagai wilayah, Kholid juga terus mengumpulkan sejumlah keterangan dari para alumni. "Kami masih terus berkoordinasi. Perkara ini akan kami laporkan ke pihak kepolisian. Sebab, beberapa kejadian telah menjurus pada tindakan kriminal," papar Kholid. (in)

Friday, July 24, 2009

Maruto,Mhs kedokteran asal Klaten jadi tangan kanan Noordin M Top

Nama Maruto Jati Sulistyono telah menjadi perhatian polisi sejak jaringan Noordin M Top di Semarang terbongkar. Maruto memang diyakini sebagai salah seorang sahabat dekat Subur alias Abu Mujahid, yang merupakan tangan kanan Noordin dalam perekrutan anggota baru dari kelompok Semarang.

Maruto berasal dari Dukuh Pakisan RT 19 RW 9, Cawas, Klaten. Hingga terakhir dia masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, namun tidak tamat. Polisi terus mencarinya, termasuk mengawasi rumah orangtuanya di Pakisan, Cawas.

Namun pihak keluarga maupun para tetangganya mengaku bahwa sudah setahun lebih Maruto tidak pernah pulang ke desanya. Semenjak menikah tahun 2003, Maruto menjadi jarang pulang.

Suyono, orangtua Maruto, mengatakan bahwa terakhir Maruto pulang ke rumah di Klaten pada saat liburan kuliah Juli tahun 2005. Itu artinya dia pulang ke orangtuanya sudah dalam status sebagai buron, karena dia sudah diburu polisi sejak jaringan itu terbongkar bersamaan dengan penggrebekan sarang mereka di Malang, Jatim.

Suyono bukan orang sembarangan. Dia mantan Kepala Badan Pertahanan Nasional (BPN) Kota Semarang. Setelah pensiun dia lalu memilih pulang ke desanya. Di desa dia masih menjadi orang terpandang dan dipercaya memimpin Badan Perwakilan Desa Pakisan.

Dari kelompok Semarang saja, selain Maruto, masih ada nama-nama Yusuf, Isnaini, Zamarul. Zamarul adalah orang yang paling akhir dikunjungi Subur sebelum tertangkap. Ada juga nama Aslam dan Teddy alias Reno.

Di antara nama-nama itu, Maruto, Aslam dan Teddy adalah nama penting, terutama perannya sebagai perekrut anggota baru. Dari merekalah Noordin mendapat 'amunisi'; baik amunisi keuangan operasional maupun amunisi sumber daya manusia.

Nama lainnya yang cukup punya peran pentingadalah Subur alias Abu Mujahid. Dia telah tertangkap di Boyolali dalam perjalanan naik bus dari Solo menuju Semarang, beberapa waktu lalu. Maruto dan Subur bersahabat erat semenjak keduanya bergabung dalam kelompok Noordin.

warga Cilacap mulai di tangkapi Densus 88

Lagi densus 88, menangkap Zaenal Achmadi alias Achmadi yang ditangkap di Cilacap dan diinterogasi di sebuah hotel di Semarang dini hari kamis (24/7) dibawa Densus 88 ke Jakarta. Achmadi merupakan nama baru di jaringan Noordin M. Top. Keterlibatan pria 37 tahun, warga Sikanco, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah, itu sudah cukup lama. Bahkan, dia disebut-sebut menjadi salah seorang kepercayaan buron kakap tersebut.

Masuknya Achmadi ke jaringan Noordin dibawa oleh Bahridin Latif alias Baridin (mertua Noordin M. Top) pada 2001. Ketika itu, Noordin belum menjadi pemain utama di JI. Dia hanya pengikut Dr Azahari. ''Bahkan, perannya di bom Bali pun tak ada. Kecuali hanya mengantarkan Dr Azahari ke Tenggulun untuk membantu perancangan bom,'' ujar seorang anggota senior JI kepada Jawa Pos.

Lima tahun kemudian, setelah cukup akrab dan Noordin menjadi sosok penting di jaringan tersebut, Achmadi dibaiat. "Dia dipersiapkan sebagai calon pelaku bom bunuh diri," kata sumber koran ini. Suami Rokikoh itu disebut-sebut menjadi kurir bom. Dia juga bertindak sebagai penghubung antara kelompok Palembang dan kelompok Jawa Tengah.

Yang lebih mengagetkan, bom yang ditemukan di belakang rumah Baridin pada 14 Juli lalu, ternyata, bom yang disiapkan untuk Achmadi dalam aksi selanjutnya setelah JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Densus 88 juga dikabarkan telah menangkap kaki tangan Noordin. Dia adalah Maruto Jati Sulistyo, 29, warga RT 04 RW 06, Dusun Gedangan, Boja, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Maruto dikabarkan tertangkap di suatu tempat di Desa Patean, Kecamatan Sukerojo, Kabupaten Kendal, pada Kamis malam (23/7).

Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo bahkan dilaporkan sempat mengunjungi Kantor Polsek Boja untuk mengecek kabar tersebut. Namun, ketika ditanya wartawan, Kapolda mengatakan hanya melakukan kunjungan rutin. ''Ini hanya kunjungan biasa. Saya ngecek ke polsek-polsek,'' tutur Kapolda Alex.

Thursday, July 23, 2009

Wonogiri diduga tempat berlatih teroris














Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi dalam waktu dekat akan mengumpulkan ketua rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) terkait dugaan Wonogiri sebagai lokasi latihan para teroris.

Bupati juga meminta kepada warga memaksimalkan dan mematuhi peraturan lapor 1 x 24 jam karena pelaku teroris ternyata bisa berasal dari anggota keluarga.
Pernyataan Bupati disampaikan kepada Espos seusai memberikan pengarahan kepada jajarannya secara tertutup di Ruang Data, kompleks Kantor Pemkab Wonogiri, Kamis (23/7). ”Kami akan kumpulkan lagi lurah, camat, bahkan RT-RT. Juga jangan mudah termakan isu. Pola lapor RT perlu diintensifkan.”

Lebih lanjut Bupati didampingi Kabag Humas, Waluyo, menyatakan pembinaan lurah, camat dan RT bisa dilakukan di kantor kecamatan ataupun di pendapa Rumah Dinas. Bupati prihatin jika daerah Wonogiri dijadikan lokasi latihan para teroris.
Terpisah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) Wonogiri, Gatot Gunawan, menyatakan pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan. Dia sependapat dengan keinginan Bupati untuk mengumpulkan ketua RT/RW. Menurutnya, pengawasan harus dilakukan oleh masyarakat karena yang mengetahui lebih awal adalah masyarakat, bukan petugas.
Bagaimana dengan enam wilayah yang selama ini mendapat prioritas pengawasan? Gatot menyatakan sudah dipantau sejak lama, namun tidak dipublikasikan. Enam wilayah yang mendapat perhatian adalah Purwantoro, Jatisrono, Batuwarno, Wonogiri, Selogiri, Manyaran dan Giriwoyo.

Sedangkan Kepala Lingkungan Kaloran, Winarno menyatakan mendukung upaya Bupati untuk mengumpulkan ketua-ketua RT dan RW. ”Kami sependapat dan pada arisan RT akan kami informasikan dan intensifkan laporan 1 x 24 jam bagi tamu. Karena, setiap individu keluarga tidak mengetahui satu dengan yang lain. Untuk itu, walau yang datang atau bertamu itu famili sendiri tetap harus dilaporkan kepada ketua RT, apalagi sampai menginap 1 x 24 jam.”

Kemarin, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto menyatakan lima wilayah di Jateng diwaspadai terkait aksi terorisme. Lima daerah itu adalah Wonosobo, Cilacap, perbatasan Sleman dan Boyolali serta Wonogiri. Menurut Pangdam, Wonosobo adalah daerah penyelamatan, persembunyian dan perencanaan aksi teror. Kemudian Cilacap terkait penemuan bahan peledak yang sama dengan aksi pengeboman di Jakarta.
Sleman dan Boyolali diwaspadai karena di daerah itu ada kelompok garis keras, sementara Wonogiri ditengarai sebagai tempat latihan para pelaku teror.

Anak-anak di balik terali besi

















Pertengahan Juni 2009, secara serentak beberapa stasiun televisi swasta nasional menayangkan dua kasus kriminalitas dengan pelaku anak-anak. Usia mereka 12 tahun–15 tahun dari latar belakang keluarga sederhana. Satu kasus pencurian terjadi di wilayah Depok dan yang lain adalah kasus perjudian di wilayah Tangerang.


Dalam gambar, tampak sekali anak-anak tersebut sangat tertekan di dalam tahanan. Mereka menangis minta segera pulang dan ada pula yang hanya menundukkan kepala dengan lesu. Di antara mereka ada yang mengalami kekerasan selama penyidikan.
Kasus di Tangerang dan Depok merupakan gambaran kondisi anak-anak yang berhadapan dengan hukum di Indonesia. Di Solo, berdasarkan hasil beberapa kali pengamatan di Pengadilan Negeri Solo, terdapat beberapa anak yang dihadapkan ke persidangan. Salah satunya anak berinisial BT, 15, karena mencuri sandal. Atau juga DSW, 14, yang disidang karena melakukan pemerasan terhadap teman sekolahnya. Karena kasus-kasus itu, keduanya harus mengenyam udara di Rumah Tahanan (Rutan) Solo beberapa bulan.
Di usianya yang masih sangat muda, mereka harus mengalami proses hukum atas perkara pidana yang demikian panjang dan melelahkan. Mulai dari tahap penyidikan oleh polisi, penuntutan oleh jaksa, persidangan oleh hakim dan pelaksanaan putusan hakim. Sejak tahap penyidikan, aparat hukum telah diberi kewenangan oleh UU untuk melakukan penahanan.
Situasi dalam tahanan memberikan beban mental berlipat bagi si anak. Ditambah lagi tekanan psikologis yang harus dihadapi mereka yang duduk dalam persidangan sebagai pesakitan. Selain psikis mereka yang terluka, akses pendidikan bagi anak-anak yang ditahan pun terbatas. Dari sekitar 20 anak usia sekolah yang berada di Rutan Solo, hanya satu anak yang sempat merasakan ujian akhir semester tahun 2009 di Rutan.
Payung hukum
Payung hukum untuk melindungi hak anak di Indonesia adalah UU No 39/ 1999 tentang HAM, UU No 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Peradilan Anak serta Keppres No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak.
Namun yang menjadi masalah adalah belum adanya kesiapan sarana dan prasarana bagi anak yang terlibat masalah hukum. Data per 1 Juni 2009, jumlah anak yang pernah menjadi tahanan di Rutan Solo mencapai 74 anak. Tapi per 16 Juli 2009, jumlah tahanan anak sebanyak 13 orang. Rutan Solo menyediakan dua sel dalam Wisma Anak untuk menampung mereka.
Terdapat dua kategori perilaku anak yang membuatnya berhadapan dengan hukum yakni status offender dan juvenile delinquency. Status offender adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan orang dewasa tidak termasuk kejahatan. Contohnya tidak menurut, membolos sekolah, kabur dari rumah. Sedangkan juvenile delinquency adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan orang dewasa termasuk kategori kejahatan.
Proses hukum anak-anak tersebut masuk dalam sistem peradilan pidana terpadu yang mengutamakan pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak. Persidangan anak dilakukan tertutup dengan hakim tunggal. Hakim, jaksa, dan penasihat hukum tidak menggunakan pakaian dinas atau toga. Pidana yang dapat dijatuhkan bagi mereka paling lama separuh dari ancaman maksimal pidana penjara orang dewasa. Anak juga mendapatkan perlindungan pemberitaan atas identitas mereka.
Pendekatan yang harus digunakan dalam penanganan pelanggaran hukum oleh anak adalah bahwa anak belum mengerti benar tentang kesalahan yang diperbuat, anak-anak pun lebih mudah dibina dan disadarkan akan kesalahan mereka.
Kenyataannya, anak yang berkonflik dengan hukum masih sedikit yang mendapatkan bantuan hukum sejak awal proses hukum. Kasus-kasus anak juga masih ditangani oleh penyidik umum, di luar unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA). Oleh karenanya, perlu dihindari penghukuman tidak manusiawi yang menjatuhkan martabat anak dan penjara sebagai upaya terakhir (Pasal 16 UU Perlindungan Anak).




Keadilan restoratif
Seiring perkembangan pengetahuan dan permasalahan anak yang berhadapan dengan hukum, lahirlah model penghukuman yang bersifat restoratif (restorative justice). Kelompok Kerja Peradilan Anak PBB mendefinisikan restorative justice system sebagai suatu proses di mana semua pihak yang berhubungan dengan tindak pidana tertentu duduk bersama-sama untuk memecahkan masalah dan memikirkan bagaimana mengatasi akibat di masa yang akan datang.
Restorative justice pada dasarnya dapat dilakukan dengan diskresi dan diversi. Diskresi merupakan kewenangan kepolisian secara legal untuk meneruskan atau menghentikan suatu perkara. Sedangkan diversi adalah pengalihan penanganan kasus-kasus anak yang diduga telah melakukan tindak pidana. Tujuan memberlakukan diversi adalah menghindarkan proses penahanan terhadap anak dan pelabelan anak sebagai penjahat. Anak didorong untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.
Penerapan restorative justice menekankan pada kemauan murni dari pelaku untuk memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkannya sebagai bentuk rasa tanggung jawab. Perbaikan kerugian harus proporsional dengan memperhatikan hak dan kebutuhan korban. Untuk menghasilkan kesepakatan para pihak tersebut, perlu dilakukan dialog-dialog informal seperti mediasi dan musyawarah. Keterlibatan anggota komunitas yang relevan dan berminat secara aktif sangat penting dalam bagian ini sebagai upaya penerimaan kembali si anak dalam masyarakat.
Restorative justice memang masih kurang terdengar gaungnya di masyarakat. Masih jarang metode ini diterapkan pada penyelesaian kasus-kasus pidana yang mendudukan anak-anak sebagai pelaku. Selama ini anak yang melakukan tindak pidana diharuskan mempertanggungjawabkan secara pidana pula, yakni dengan pemenjaraan.
Metode pemenjaraan yang selama ini dilakukan tidak selalu berhasil memberi efek jera pada kasus anak-anak. Dalam diri anak seusia mereka belum ada kesadaran akan akibat perbuatannya.
Pada intinya, fokus restorative justice adalah memperbaiki kerusakan sosial yang diakibatkan pelaku, mengembangkan pemulihan bagi korban dan masyarakat, serta mengembalikan pelaku kepada masyarakat. Upaya ini membutuhkan kerja sama semua stakeholders dan aparat penegak hukum dalam rangka perlindungan hak-hak anak yang berhadapan dengan hukum.
Solo adalah salah satu kota layak anak yang dipilih Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan sejak 2006. Konsekuensinya, Pemkot Solo harus berupaya memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum salah satunya dengan membentuk tim kerja untuk penerapan restorative justice. Data tahanan anak di Rutan Solo per 16 Juli 2009 menunjukkan angka 13. Artinya, terdapat 13 anak yang harus menghabiskan waktunya di dalam tahanan dengan fasilitas sangat terbatas, meskipun untuk kriminalitas ringan.
Harapannya dalam memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli ini, Kota Solo dapat mempercepat pembentukan tim restoratif justice sebagai implementasi Konvensi Hak Anak.



- Oleh : Dian Sasmita, Advokat KPBH Atma Solo

Polda Jateng Tangkap satu tersangka teroris di Cilacap




















Jajaran Polda Jateng mengaku telah menangkap seorang lelaki penjual tukang sapu, karena diduga ikut terlibat jaringan teroris pimpinan Noodin M Top. Lelaki dengan inisial ZA ini mengaku telah dipersiapkan menjadi pelaku bom bunuh diri atau yang biasa disandikan sebagai 'calon pengantin'. Lelaki yang ditangkap di Cilacap pada Rabu malam kemarin tersebut mengaku telah mendapat pembinaan khusus sejak tahun 2001.
Hal tersebut disampaikan Kapolda Jateng Irjan (Pol) Alex Bambang Riatmodjo saat memberikan pengarahan kepada seluruh kepala desa dan lurah se wilayah Surakarta di Diamond Convemtion Center Solo, Kamis (23/7/2009).

Bambang mengatakan penangkapan terhadap lelaki yang mengaku anggota kelompok teror itu dilakukan di Cilacap Rabu malam. Lelaki berinisial ZA tersebut bergabung sejak tahun 2001 dan telah mendapatkan pembinaan atau pelatihan khusus untuk dipersiapkan melakukan bom bunuh diri.

"Tadi malam dia saya tanyai dan mengaku bahwa dia memang dipersaipkan untuk melakukan bom bunuh diri berikutnya. Dia berprofesi sebagai tukang pembuat sapu dan keset (hambal)," ujar Bambang Riatmojo di hadapan ratusan kepala desa dan lurah.

Kepada wartawan seusai acara, Bambang mengatakan, hari ini ZA akan dikirim ke Mabes Polri untik dilakukan pemeriksaan silang dengan para tersangka lainnya.


Pengamanan Bersama

Dalam pengarahannya, Kapolda Jateng berharap para kepala desa dan lurah membantu menjaga daerahnya masing-masing dengan memberikan informasi kepada polisi jika melihat orang yang mencurigakan. Kepada para kepala desa dan lurah, Kapolda juga membagikan selebaran Noordin M Top.

Selain Kapolda Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Hariyadi Sutanto juga memberikan pengarahan. Dia berharap kekompakan semua pihak dalam menangani kasus terorisme yang menjadi musuh bersama.

Sedangkan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo, dalam arahannya meminta semua desa semakin meningkatkan siskamling dan wajib lapor. Dengan demikian ruang gerak para teroris akan semakin sempit dan terpojok.

Wednesday, July 22, 2009

Ba'asyir: Tidak Ada Aktivis Islam Menjadi Teroris

















Dunia barat khususnya Amerika selalu mengkaitkan terorisme dengan dunia Islam, hal inilah yang membuat pengasuh Ponpes Al mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah selalu mengutuk Amerika. Bahkan, Australia, setelah kasus bom Mega Kuningan, nyata-nyata meminta Pemrintah RI untuk membubarkan Ponpes Al Mukmin Ngruki. tentunya ini tanpa alasan.

Abu Bakar Ba'asyir menegaskan bahwa dalam penilaiannya tidak ada aktivis Islam yang ikut gerakan teroris. Menurutnya, terlepas salah atau benar tindakannya, para aktivis itu hanya mereaksi tindakan-tindakan pemerintah dan negara-negara barat yang dinilai melecehkan Islam dan hukum Islam.

"Tidak ada aktivis Islam yang teroris. Mereka adalah pejuang Islam dengan itjihad mereka sendiri. Teroris yang sebenarnya ya Amerika dan sekutunya itu. Mereka hanya mereaksi serangan permusuhan terhadap Islam yang dilakukan musuh Islam," ujar Ba'asyir kepada wartawan di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Rabu (22/7/2009).

Selain itu Pemerintah Indonesia juga dinilai tidak punya nyali karena tidak mau menerapkan hukum Islam dalam pemerintahan di negara yang mayoritas Islam. Menurut Ba'asyir, para aktivis Islam yang disebutnya sebagai para mujahid itu akan dengan sendirinya reda jika hukum Islam diterapkan.



Lebih lanjut, Ba'asyir juga mengaku tidak bisa menyetujui peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton jika memang peledakan itu dilakukan kelompok muslim. Alasan Ba'asyir, sesuai rukun dan syarat jihad tidak dibenarkan melakukan peledakan seperti itu sebelum resmi menyatakan perang secara terbuka.

"Namun demikian saya tidak bisa mempersalahkan mereka (kelompok Islam tertentu) jika memang mereka yang melakukan. Karena jika mereka melakukan itu berarti atas dasar itjihad mereka sendiri. Itjihad itu bisa saja benar bisa saja salah. Bisa juga saya yang salah," paparnya.

Ba'asyir juga tidak memberikan jawaban secara gamblang ketika ditanya apakah dia setuju Noordin M Top ditangkap. Dia hanya mengatakan bahwa selama ini Noordin adalah seorang warga Malaysia yang datang ke Indonesia untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam.

Ketika ditanya apakah dia prihatin atas jatuhnya korban di kedua peledakan itu, Ba'asyir menjawab, "Ya, harus tidak seperti itu. Bahkan kafir atau pendeta sekalipun tidak boleh diusik jika tidak memusuhi. Namun saya jauh prihatin terhadap pemerintah Indonesia yang bersikeras tidak mau menerapkan syariat Islam yang akan menyelesaikan semua masalah ini."

Genio 1994

















Menjadikan mobil lebih keren dari tampilan original pasti sangat didambakan bagi setiap orang. Apalagi bagi para penggila modifikasi, banyak gaya atau aliran yang bisa diaplikasikan untuk kendaraannya. Aliran modifikasi sport atau street racing sangat jarang dijumpai jika dibandingkan dengan aliran elegan yang sering dijumpai di jalanan ataupun bila ada kontes.

Melakukan modifikasi mobil pastinya tidak terlepas dari selera dan kemampuan financial sang pemilik mobil. Dari aliran yang ada, penerapan modifikasi pada mobil ada yang hanya memprioritaskan segi fashion, ada juga yang prioritas pada segi fungsional.

















maksud hati ingin sekali memodifikasi mobil genio taon 1994, sayang baru kesampain pada bagian velg aja yang diganti dengan velg R 17. ya, semoga di lain waktu bisa lebih banyak lagi melakukan modifikasi agar lebih enjoy membawa dan nyaman.

foto noordin m top di sebar lagi..


Aparat Polwil Surakarta menyebarkan 15.000 lembar poster buronan teroris nomor wahid, Noordin M Top, di wilayah Soloraya. Penyebaran dilakukan secara serentak oleh ratusan polisi, Rabu (22/7).


Noordin diduga menjadi otak pengeboman di sejumlah daerah, termasuk Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, pekan lalu. Dalam poster tersebut dimuat beberapa versi foto Noordin. Salah satu gambar adalah foto Noordin terbaru yaitu tidak mengenakan kacamata dan tanpa jenggot serta kumis.
Dari poster yang disebar, ciri-ciri Noordin M Top adalah berbadan tegap, tinggi badan sekitar 170 cm, tidak menggunakan kacamata, warna kulit sawo matang, rambut pendek lurus, tanpa jenggot dan kumis serta logat Melayu begitu kental.

Di wilayah Soloraya ada 15.000 lembar poster yang disebar. Di tempatkan di lokasi strategis seperti mal, batas kota hingga pusat keramaian lainnya,” ungkap Pasubbag Samapta Polwil Surakarta AKP Awali.

sementara itu, Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo meminta masyarakat proaktif membantu polisi memerangi aksi terorisme.
Selama ini, menurut orang nomor satu di Polda Jateng itu, wilayah Jawa Tengah kerap disisir terkait aksi teror. Untuk mencegah aksi teror, masyarakat diminta mewaspadai orang tak dikenal yang tinggal di lingkungan sekitarnya. ”Masyarakat harus lebih aktif melaporkan keberadaan dan kegiatan orang tak dikenal,” kata Kapolda Jateng.
Alex menjelaskan, sejauh ini, kepolisian telah meningkatkan keamanan dengan patroli, penjagaan obyek vital, mal, dan lokasi publik lainnya. Hasil kegiatan ini akan lebih optimal jika masyarakat menginformasikan keanehan-keanehan di lingkungan sekitarnya. ”Agar hal-hal buruk dapat dicegah,” ungkapnya.

Nur said bukan pelaku bom bunuh diri Mega Kuningan



Ibu mertua Nur Said, Siti Lestari, 57, terlihat girang dan bahagia, begitu mendengar kabar menantunya yang diduga terkait dengan aksi bom bunuh diri tersebut, bahwa suami anaknya bukan merupakan pelaku bom bunuh diri di Mega Kuningan.
Mabes Polri memastikan pelaku pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton bukan Nur Said dan Ibrahim sebagaimana diberitakan media selama ini.

Kepastian itu diperoleh dari hasil tes DNA yang dilakukan Polri terhadap kepala pelaku pengeboman serta keluarga Nur Said dan Ibrahim. ”Ternyata hasilnya tidak identik dengan DNA para pelaku bom,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna dalam jumpa pers di Jakarta Media Center, Cafe Ginger Bellagio, Jakarta, Rabu (22/7).

Menurut Nanan, meski dipastikan bukan pelaku bom bunuh diri namun keberadaan Nur dan Ibrahim hingga kemarin masih misterius. Nanan mengatakan, polisi telah membuat sketsa wajah pelaku pengeboman. Dalam keterangan di sketsa itu, pelaku bom di Hotel Marriott berumur sekitar 17 tahun, berjenis kelamin laki-laki, rambut lurus pendek, tinggi sekitar 180 cm-190 cm, serta ukuran sepatu 42-43. Dari ciri-ciri itu, Nur Said jelas bukan pelakunya.

Sedangkan sketsa pelaku bom di Ritz Carlton, berjenis kelamin pria, berusia sekitar 30-40 tahun, rambut lurus pendek, berkulit sawo matang, dan bertinggi badan 165 cm. Dari ciri-ciri itu pelaku juga bukan Ibrahim. ”Baik Nur Said maupun Ibrahim tidak cocok dengan sketsa yang kami buat ini. Jadi, (pelaku) bukan mereka,” jelas dia.
Ditambahkan dia, polisi memastikan dua kepala yang masing-masing ditemukan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton adalah milik pelaku bom bunuh diri.”Dua kepala sudah bisa diduga sebagai pelaku pembom bunuh diri. Kami melakukan pengumpulan serpihan-serpihan,” kata Kadiv Humas.

Menurut Nanan, untuk bom di JW Marriot, polisi menemukan tubuh yang dipastikan merupakan pasangan kepala tersangka yang diperkirakan berumur 17 tahun tersebut. Tubuh tersebut berukuran cukup besar. Kemudian, lanjutnya, polisi mencoba menarik kemungkinan pelaku merupakan penyewa kamar 1808. Salah satu peralatan di kamar itu diketahui cocok dengan tubuh yang telah teridentifikasi.

Sedangkan untuk bom di Ritz Carlton, kepastian mengenai kepala pelaku didapat dari keterangan saksi. ”Untuk potongan di Ritz Carlton, berdasarkan keterangan saksi, dia adalah sebagai suicide bomber,” pungkasnya.

Nanan belum mau menjelaskan siapa orang lain yang dicurigai sebagai pelaku peledakan bom, setelah Nur Said dan Ibrahim bebas dari sangkaan. “Yang jelas, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku peledakan,” katanya.

Monday, July 20, 2009

Nur Said memang alumnus Ponpes Al Mukmin, Ngruki

Direktur Al-Mukmin Ngruki, Ustadz Wahyuddin, mengakui bahwa Nur Said yang diduga sebagai pelaku bom bunih diri di JW Marriot adalah alumnus pesantren tersebut. Nur Said diakui belajar di Ngruki seangkatan dengan Asmar Latin Sani dan Abdul Hadi dan lulus tahun 1994.


"Di buku induk tidak ada nama alumni maupun santri bernama Nurhasbi, Nuri Hasdi atau Nur Sahid seperti yang ditanyakan wartawan selama ini. Namun jika nama Nur Said asal Temanggung memang ada. Dia lulusan tahun 1994 dari Kuliyatul Mualimin al-Islamiyah (KMI)," disebutkan Wahyuddin.

ditambahkan dia, Nur Said seangkatan dengan Asmar Latin Sani, pelaku bom bunuh di JW Marriot tahun 2003. Dia juga seangkatan Abdul Hadi yang tewas tertembak dalam penyergapan polisi di Wonosobo beberapa waktu lalu.

Meskipun nyantri selama enam tahun di pesantren yang dia pimpin, Wahyuddin mengaku tidak mengenal secara pribadi dan tidak memiliki kenangan tersendiri terhadap Nur Said. Hal itu, menurutnya, mungkin karena selama nyantri Nur Said bukan santri yang menonjol.

"Santri yang menonjol dan mudah dikenal itu mungkin karena kepandaiannya atau memiliki prestasi khusus. Saya tanya ke para ustadz di sini, mereka juga sudah tidak ingat atau memiliki kenangan tersendiri. Berarti Nur Said ini selama nyantri juga hanya rata-rata saja prestasinya," ujarnya.

Lebih lanjut, meskipun sejumlah lulusan pesantrennya terkait dengan tindak kekesan, namun Wahyuddin tetap merasa tidak terganggu karena mereka bertindak seperti itu setelah lulus dari pesantren. Namun demikian dia mengakui tindakan segelintir alumni itu tetap berpengaruh pada nama baik lembaganya.

"Yang jelas lembaga kami tidak terkait aksi kekerasan seperti itu. Saya pribadi juga menolak kekerasan. Dalam Islam, perang itu ada rukun dan syarat-syaratnya. Menurut saya, tindakan mereka tidak memenuhi rukun dan syarat-syarat perang yang diatur dalam Islam," kata menantu (alm) Abdullah Sungkar tersebut.Wahyuddin juga mengaku terganggu dengan kemunculan Abdurrachman Assegaf yang mengaku ketua umum Gerakan Umata Islam Indonesia (GUII) yang mengaitkan tindak kekerasan itu dengan Pesantren Ngruki. Dia mempertanyakan siapa dan apa kepentingan Abdurrachman melakukan itu.

"Kami tidak kenal dia. Lagipula apa kapasitas dia bicara dan apa kepentingannya. Untuk apa dia mengaitkan peristiwa itu dengan lembaga kami dengan data yang tidak ada dasarnya, kecuali memang dia tidak suka dengan kami," ujar Wahyuddin sembari mendoakan Abdurrachman Assegaf menyadari kekhilafannya.

mertua Nur Said tak yakin anaknya teroris


Siti lestari, mertua Nur Said alias Nur Hasbi, warga Tempel, Ngalas, Klaten, tak menyangka anaknya dikaitkan dengan pelaku bom Mega Kuningan.


menurut Siti, Nur Said, memang pernah tinggal di rumahnya bersama Dwi Pratiwi, isterinya, namun hingga kini ia tidak mengetahui keberadaan mereka. kabar terakhir ia berada di Semarang, dan kontak terakhir tiga bulan lalu.

Nur Said atau Nur Hasbi yang disebut-sebut sebagai pelaku bom bunuh diri di Jakarta, lalu dikenal oleh mertuanya sebagai pribadi yang pendiam dan tidak pernah bertingkah macam-macam.

"Mendengar berita lewat televisi bahwa Nur Said alias Nur Hasbi disebut-sebut sebagai pelaku bom bunuh diri dan teroris, kami sekeluarga sangat terkejut," kata Ny Siti Lestari, ibu mertua Nur Said alias Nur Hasbi ketika ditemui di rumahnya, Klaten, Senin (20/7).

Keluarga ini tinggal di Dusun Tempel RT 18/RW 7 Desa Ngalas, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Keluarga ini sangat terkejut ketika menantunya disebut-sebut sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton atau JW Marriot Jakarta.

Menurut dia, Nur Said alias Nur Hasbi menikah dengan putrinya, Dwi Prastiwi, pada tahun 2000. "Orangnya pendiam dan tidak pernah bertingkah macam-macam," kata Siti.

"Nur Said menikah dengan anak kami yang nomor dua dan setelah itu jarang pulang ke Klaten," kata ibu dari Dwi Prastiwi. Saat ditemui di rumahnya, siang tadi, suami Siti Lestari, Prasojo, sedang di Jakarta berjualan siomai.

Dikatakan Siti, setelah menikah Nur dan Dwi tinggal di Semarang, dan jarang pulang ke Klaten. Seingatnya, sejak menikah tahun 2000, Nur bersama istrinya baru pulang ke Klaten sekali, sekitar tiga tahun lalu. Ketika pulang, mereka hanya bermalam di rumah sehari saja. Setelah itu hanya kontak lewat telepon.

"Menantu saya itu selama ini bekerja sebagai tukang kunci dan penjual kaca mata. Menantu saya itu orang baik dan sayang kepada keluarga, untuk itu saya tidak percaya kalau sampai terlibat dalam aksi terorisme," kata Siti Lestari.

Pasangan Nur Said alias Nur Hasbi dengan Dwi Prastiwi dalam dikaruniai dua anak, yaitu Muna Sania Hanifa dan Al Husna Himatun Nisa.

Makna Perkataan Al-Jihad di dalam Al-Quran


Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Makiyyah menunjukan makna Jihad menurut bahasa yang ‘am, yaitu antara lain:

“Sesiapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri.” (QS Al-Ankabut 6)

“Jika kedua orang tuanya berjihad terhadapmu agar kamu mempersekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada pengetahuan padamu maka janganlah kamu mentaati keduanya.” (QS Al-Ankabut 8 )

“Dan orang-orang yang berjihad dijalan Kami, sungguh Kami benar-benar akan menunjukkan mereka pada jalan jalan Kami.” (QS Al-Ankabut 69)

“Dan jika keduanya berjihad terhadapmu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menta’ati keduanya….” (QS Luqman 15)

Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Madaniyyah berjumlah 26 perkataan dan kebanyakan menunjukan dengan jelas akan makna Qital (Perang), diantaranya:


Surat At-taubah ayat 41 (QS 9:41)

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “

Surat At-Taubah ayat 86

“Dan apabila diturunkan surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihad beserta Rasul-Nya, Niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berjihad) dan mereka berkata: ” Biarlah kamu berada bersama orang- orang yang duduk.” “

Dan Banyak lagi ayat-ayatnya:
QS Al-Baqarah 218 QS Al-Imran 142 QS An-Nisa 95 QS Al-Anfal 72, 74, 75 QS At-Taubah 16, 19, 20, 24, 44, 73, 81, 88 QS Al-Hujarat 15 QS Al-Maidah 35, 54 QS Al-Ankabut 6 QS As-Saf 11 QS At-Tahrim 9 QS Al-Mumtahanah 1 QS Muhammad 31



Adapun Hadist-hadist yang menunjukan makna Jihad menurut syara’ antara lain:

Dari Amru bin Abasyah berkata: Seorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Beliau menjawab:”hatimu menyerah dan orang-orang muslim selamat dari gangguan tangan dan lisanmu. Ia berkata:”Islam macam mana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Al-Iman”. Ia bertanya:”Apakah Iman itu?” Beliau menjawab: ” Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati.” Ia bertanya lagi: “Iman macam mana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Hijrah”. Ia bertanya: “Apakah Hijrah itu?” Beliau menjawab: “Engkau tinggalkan kejahatan.” Ia bertanya lagi: “Hijrah macam mana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Al-Jihad.” Ia bertanya lagi: “Apakah Jihad itu? Beliau menjawab: ” Engkau perangi orang-orang kafir jika engkau jumpai dimedan perang.” Ia bertanya lagi: “Jihad macam mana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Siapa yang dilukai anggotanya dan dialirkan darahnya.” (HR Ahmad)

Demikian pula sahabat Nabi saw jika mendengar perkataan Jihad terlintas dalam benak mereka maknanya adalah perang sebagaimana dapat kita ketahui hal ini antara lain dalam hadist dibawah ini:

Dari Abu Qutadah ra, dari Rasulullah saw, bahwasannya baginda telah berdiri dikalangan mereka kemudian menyebutkan, “Sesungguhnya Jihad fie Sabilillah dan Iman kepada Allah itu adalah amal-amal yang paling utama.” Maka berdirilah seseorang kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua dosa-dosa saya terhapus?” kemudian Rasulullah menjawab: “Ya, jika engkau terbunuh fie sabilillah sedangkan engkau sabar, semata-mata mencari pahala, maju terus, tidak mundur.” Kemudian Rasulullah saw berkata: “Bagaimana tadi apa yang engkau katakan?” Ia bertanya: “Bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua kesalahan saya juga akan terhapus? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, sedangkan kamu bersabar, semata- mata mencari pahala, maju terus tidak mundur, kecuali hutang (tidak akan terhapus), karena sesungguhnya Jibril as mengatakan demikian kepadaku.” (HR Muslim no.1885).

Jihad adalah salah satu jenis ibadah tertentu yang telah disyariatkan Allah kepada umat Islam sebagaimana ibadah Sholat, Zakat, Puasa dan Ibadah-Ibadah lainya. Oleh itu ta’rif jihad menurut bahasa semata-mata tidak tepat jika kita gunakan sebagai ta’rif jihad menurut syara’, seperti Ibadah-ibadah lainnya, misalnya sholat. Menurut bahasa, Sholat artinya Do’a, tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan sholat itu adalah salah satu dari jenis Ibadah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa setiap do’a itu adalah sholat.

Demikian pula halnya Siyam (Puasa) menurut bahasa artinya menahan atau mengekang dari makan dan minum. Apakah setiap perbuatan menahan dari makan dan minum pada waktu tertentu dapat dikatakan Siyam (Puasa) secara Syar’i? Tentu tidak. Maka demikian pula halnya Jihad yang artinya menurut bahasa adalah mengerahkan segenap kekuatan dalam perkara apa saja dapat dikatakan Jihad. Karena Jihad sudah merupakan satu jenis Ibadah yang tertentu dalam syariat Islam yaitu pengerahan segenap kekuatan dan kemampuan dalam berperang fie sabilillah dengan jiwa, harta, lisan dan sebagainya.


“Hai Nabi, berjihadlah (perangilah) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali seburuk-buruknya.” (QS At-Taubah 72)

Dalam menafisirkan ayat ini Ibnu Mas’ud berkata: “Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang Munafik dengan tangan, dan jika tidak mampu maka harus mengingkari pada wajah. Dan Ibnu Abbas mengatakan: “Allah swt memerintahkna Nabi saw untuk memerangi orang-orang kafir dengan Pedang dan memerangi orang-orang Munafik dengan lisan dan tidak bersikap lembut terhadap mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/408).

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah 216).

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agam Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka kalam keadaan tunduk”. (QS At-Taubah 29)

Sumber: Abu Aqeedah

Saturday, July 18, 2009

Ponpes Ngruki bantah 'N' alumnus Ngruki





Ponpes al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah membantah keras pernyataan abdurrahman Assegaf yang menyebutkan pelaku Bom Bunuh diri di Mega Kuningan meruakan alumnus Ponpes aL Mukmin, Ngruki.

Pesantren Al-Mukmin Ngruki menilai Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) Abdurrahman Assegaf melakukan fitnah besar terkait pernyataannya yang menyebut pelaku bom bunuh diri di JW Marriot adalah alumnus pesantren tersebut. Pihak Ngruki mendesak Abdurrahman meminta maaf.

Pembantu Direktur Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sholeh Ibrahim, mengatakan di daftar induk murid dan alumni pesantrennya tidak ada nama seperti yang disebut Abdurrahman Assegaf.

Sebelumnya Abdurrahman pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott bernama Nurhasbi alias Nuri Hasdi alias Nur Sahid asal Temanggung Jateng yang disebutnya sebagai alumnus Ngruki seangkatan dengan Asmar Latin Sani, pelaku bom, bunuh diri di kedutaan besar Australia beberapa tahun silam.

"Di buku induk tidak ada tiga nama yang disebut Abdurrahman itu. Saya mantan kepala KMI (Kuliyatul Mualimin al-Islamiyah, program yang ditempuh Asmar di Ngruki -red), saya ingat teman seangkatan Asmar, tapi tidak ada yang bernama itu," ujar Sholeh kepada wartawan, Minggu (19/7/2009).



Sholeh memaparkan salah satu teman seangkatan Asmar adalah Abdul Hadi yang tewas tertembak dalam penyergapan polisi di Wonosobo beberapa waktu lalu. Namun tidak ada yang bernama Nurhasbi atau Nuri Hasdi maupun Nur Sahid.

Sholeh jutsru menyebut Abdurrahman Assegaf melakukan fitnah karena telah menyebarkan kabar tidak benar. Dia juga mempertanyakan latar belakang Abdurrahman serta motivasinya menyebarkan kabar tersebut kepada publik tanpa terlebih dulu mencari tahu kebenaran.

"Abdurrahman Assegaf itu siapa, kami tidak kenal. Tiba-tiba dia muncul dengan kepala diikat-ikat sorban putih lalu ngomong ini itu tanpa dasar. Ini jelas fitnah besar. Apa pula motivasi dan kepentingan dia membeberkannya kepada publik. Kalau memang niatannya baik, silakan datang kemari,” ujar Sholeh.

Sholeh berharap Abdurrahman bersedia mencabut pernyataan yang dianggapnya sebagai fitnah tersebut. Selanjutnya Abdurrahman juga harus meminta maaf kepada Ponpes Al-Mukmin Ngruki sebagai lembaga pendirikan yang terganggu atas pernyataan Abdurrahman yang dinilai menyesatkan itu.

“Jika itu tidak dilakukan bisa saja kami mengambil langkah-langkah yang kami anggap tepat untuk menjaga nama baik lembaga. Keputusannya nanti setelah kami mengadakan rapat dengan seluruh pimpinan pondok. Saat ini direktur pondok masih ada acara di Jakarta,” ujar Sholeh Ibrahim tegas.

Friday, July 17, 2009

Hotel Mall Solo dijaga Ketat



















Pengamanan di sejumlah mal di Solo, Sabtu (18/7) pagi, diperketat pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Kuningan kemarin pagi. Penambahan personel petugas keamanan hingga tingkat ketelitian pemeriksaan di pintu-pintu masuk dilakukan oleh masing-masing manajemen sejumlah mal di Solo.



Pemeriksan secara berlapis juga dilakukan di sejumlah hotel berbintang di Solo. Sejumlah aparat kepolisian berseragam tampak berjaga di dekat pintu masuk hotel. Beberapa orang satpam langsung melakukan pemeriksaan terhadap semua mobil yang masuk ke hotel.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh 2-3 orang satpam hampir semuanya sesuai standar pengamanan hotel. Di pintu luar yang berjarak 20-40-an meter dari lobi hotel, 2-3 orang petugas satpam langsung meminta sopir untuk membuka kaca dan bagasi. Tak lupa di bagian bawah mesin juga diperiksa.

Mereka kemudian memberikan kartu pengenal sebagai tanda masuk. Mereka juga terkadang menanyakan tujuan ke hotel. Sedang di lobi selain terdapat security hotel juga terdapat beberapa orang anggota kepolisian yang tidak berseragam ikut berjaga-jaga.

Pelaku Bom JW Marriot dan Rizt Carlton, musuh Islam

Abu Bakar Ba'asyir memberikan peringatan kepada semua pihak untiuk berhati-hati dalam menyikapi peledakan yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Rizt Carlton. Jika peledakan itu dilakukan para pejuang muslim, maka itu adalah reaksi atas bentuk pemerintahan sekuler yang diterapkan di Indonesia saat ini.

Hal tersebut disampaikannya kepada wartawan usai tampil berorasi dalam aksi menentang kekerasan terhadap terhadap muslim di Cina, yang digelar di Bundaran Gladag, Solo, Jumat (17/7/2009) siang.



Tentang peledakan bom di kedua lokasi tersebut, Ba'asyir semula menduga dilakukan oleh pihak-pihak yang disebutnya musuh-musuh Islam. Tujuannya agar ada alasan untuk memojokkan, menekan dan menangkap para pejuang Islam.

Ditanya lebih jauh tentang siapa yang disebutnya sebagai musuh Islam, Ba'asyir dengan tangkas menjawabnya, "Kalau musuh Islam, pasti Amerika terlibat," ujarnya.

Namun demikian, masih menurut Ba'asyir, tidak tertutup kemungkinan, peledakan dilakukan pihak lain termasuk kelompok muslim yang tidak puas dengan keadaan. Jika peledakan itu dilakukan oleh kelompok muslim, lanjutnya, keputusan itu diambil sendiri oleh pelakunya.

"Karena pemerintahan saat ini tidak menggunakan dasar Islam. Pemerintah ini telah melecehkan hukum Islam. kalau tidak segera disadari, saya khawatir akan ada bencana yang lebih besar lagi," ujarnya.

KANJENG MAS AYU MANOHARA




MODEL DAN ARTIS MANOHARA ODELIA PINOT/
JUMAT SIANG/MENERIMA GELAR BANGSAWAN KANJENG MAS
AYU/KMA/LAKSMINTO RUKMI/DARI KERATON KASUNANAN
SURAKARTA/JAWA TENGAH//MANOHARA MENERIMA GELAR
BERSAMA 400 TOKOH LAIN//



PEMBERIAN GELAR DARI KERATON KASUNANAN SURAKARTA
INI DIBERIKAN KEPADA 400 ORANG/TERMASUK SEJUMLAH
ARTIS/PEJABAT/DAN TOKOH NASIONAL//DARI KALANGAN
ARTIS/ANTARA MANOHARA DAN DORCE GAMALAMA//



PENGANUGERAHAN GELAR BANGSAWAN INI BERLANGSUNG
DUA KALI DI DUA TEMPAT/YAITU BANGSAL SMARAKATHA
UNTUK PARA ABDI DALEM/DAN BANGSAL SIDIKORO UNTUK
PENERIMA GELAR YANG TINGKATANNYA LEBIH TINGGI/
TERMASUK MANOHARA//





MANOGARA TIBA DI KERATON SURAKARTA SEKITAR PUKUL
11.00/DIDAMPINGI IBUNYA//BEGITU DATANG/MANOHARA
LANGSUNG MASUK BANGSAL SIDOKORO UNTUK MENGIKUTI
UPACARA PENGANUGERAHAN//MANOHARA MENDAPATKAN GELAR
KANJENG MAS AYU/KMA/DENGAN NAMA BARU LAKSMINTO
RUKMI//


MANOHARA MENGAKU PENGANUGERAHAN GELAR INI SANGAT
MEMBESARKAN HATINYA//MENURUT GUSTI MOERTIYAH/ATAU
GUSTI MOENG/ANGGOTA KELUARGA KERATON/PEMBERIAN GELAR
SEBAGAI BENTUK SIMPATI KERATON TERHADAP PERJUANGAN
MANOHARA ATAS KASUS YANG MENIMPANYA//


PEMBERIAN GELAR KEBANGSAWANAN KERATON INI DILAKUKAN
SETIAP TAHUN/MERUPAKAN RANGKAIAN DARI UPACARA TINGALAN
JUMENENGAN/ATAU PERINGATAN NAIK TAHTA/PAKU BUWONO XII/
HANGABEHI//

Wednesday, July 15, 2009

'Orangutan' Bergelimpangan di Depan Balaikota Solo


Muchus Budi R. - detikNews
Solo - Beberapa 'orangutan' bergelimpangan di depan Balaikota Solo. Menyimbolkan beberapa orangutan yang mati di Kebun Binatang Solo.

Bukan orangutan sungguhan memang. Satu orangutan adalah peserta aksi dari Center for Orangutan Protection (COP) yang mengenakan kostum ala orangutan. Dia terlentang di depan pintu gerbang balaikota di kelilingi beberapa boneka anak orangutan.

Aksi ini bentuk protes sejumlah pemuda yang tergabung COP saat menggelar aksi menyikapi kematian orangutan koleksi Taman Satwa Taru Jurug, Solo. Unjuk rasa digelar di depan pintu gerbang Balaikota Surakarta, Kamis (16/7/2009).

Mereka menggelar dua spanduk, sebuah karangan bunga dan menenteng sebuah foto orangutan sebagai tanda duka cita.

Kebun Binatang Solo dinilai mereka tak layak merawat orangutan yang bernama latin Pongo pygmaeus ini. Salah satu orangutan di kebun binatang itu, Toni mati karena diduga salah urus.

Menurut COP, Pemkot Surakarta dinilai tidak mampu mengelola Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) hingga menyebabkan beberapa koleksi hewan, termasuk orangutan mati karena berbagai faktor.

Toni, seekor orangutan Kalimantan mati hari Minggu 12 Juli lalu. COP menilai Toni mati karena kondisi kandang buruk dan suplai air bersih kurang. Kandang juga tidak dilengkapi tempat bermain, padahal struktur kandang harus dibuat mirip dengan habitat asal.

Sebelum Toni mati, orangutan koleksi TSTJ bernama Tina juga mati di kandangnya tahun lalu. Semua itu, menurut COP, karena salah urus pengelola. Orangutan ditempatkan di lantai tembok tanpa atap sebagai tempat berlindung dari panas matahari dan hujan adalah kekeliruan besar.

Sebelum kematian Toni, lanjutnya, COP sudah merekomendasikan semua orangutan koleksi TSTJ dipindahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa di Yogyakarta. Karena kandang orangutan di TSTJ dinilai tidak layak untuk ditempati. Namun rekomendasi itu ditolak pihak pengelola.

"Jika kondisi ini dibiarkan, satu-satunya orangutan yang tersisa di TSTJ juga terancam keselamatannya. Apalagi saat ini orangutan yang tersisa itu sudah dalam kondisi mental dan fisiknya kurang bagus," kata captivity program coordinator COP, Seto Hari Wibowo.

Seto menjelaskan orangutan muda yang kini tersisa sering terlihat membenturkan kepalanya ke tembok. Makanan yang diberikan oleh petugas berupa nasi bungkus dan sekantong air minum. Padahal, menu utama orangutan adalah dedaunan, buah, dan serangga.

(mbr/nwk)

hati-hati dengan vw kodokmu



Jakarta - Sebuah mobil VW kodok berwarna hijau terbakar di kawasan Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng). Petugas kepolisian masih berusaha memadamkan kobaran api.

"Lokasinya tidak jauh dari gapura bandara," kata Kasatlantas Polres Bandara Cengkareng Kompol Sutimin kepada detikcom, Kamis (16/7/2009).



Akibat kebakaran itu lalu lintas dari Bandara menuju Jakarta tersendat. Banyak pengendara berhenti untuk melihat kejadian itu. "Kita sedang menunggu mobil pemadam kebakaran," katanya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Sedangkan untuk penyebabnya masih belum diketahui.

"Tidak ada korban jiwa. Hanya mobilnya saja yang terbakar," katanya.

(nal/iy)

manohara terima gelar keraton solo

Solo (Espos)--Model yang juga artis sinetron, Manohara Odelia Pinot bakal menerima gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT) dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Gelar KMAT untuk Manohara tersebut rencananya dianugerahkan bersama dengan lebih dari 75 penerima gelar lain dalam sebuah upacara di Bangsal Sidikoro, kompleks Keraton, Jumat (17/7).

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, KRA Winarno Kusumo, saat dihubungi Espos, Rabu (15/7) malam, mengatakan pemberian gelar bagi sejumlah kalangan itu merupakan agenda yang selalu dilakukan setiap tahun, bertepatan dengan jumenengan Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi. Untuk tahun ini, Winarno menyebut ada 400-an orang yang menerima gelar, termasuk Manohara.



“Acara pemberian gelar, dilaksanakan dua kali. Untuk Kamis (16/7) gelar diberikan bagi para abdi dalem di Bangsal Smarakatha. Sedangkan untuk 75-100 penerima gelar yang secara tingkatan lebih tinggi, umumnya berasal dari kalangan kerabat dan tokoh-tokoh penting, termasuk Manohara, gelar tersebut akan diserahkan hari Jumat, di Bangsal Sidikoro,” papar KRA Winarno Kusumo.

Winarno menambahkan, selain Manohara, sejumlah tokoh lain dari Jakarta dan Malaysia juga akan hadir dalam penyerahan gelar tersebut. Para tokoh itu menerima gelar dari Keraton atas partisipasi di bidang yang digeluti masing-masing.



Sementara itu masih dalam rangkaian Jumenengan Dalem PB XIII Hangabehi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bekerja sama dengan Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu-Minggu (18-19/7), akan menggelar Festival Keraton Surakarta 2009 di Sitihinggil Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dimulai dengan upacara agung Tingalan Jumenengan Dalem Dinasti Mataram SISKS PB XIII pada Sabtu pukul 10.00 WIB sebagai acara inti, festival dilanjutkan malam harinya dengan konser karawitan, Bedaya Sukoharjo yang merupakan peninggalan PB IX, dan peragaan busana adat.(tsa)


Kostum 11 negara Asean bakal ramaikan SBC 2019

KITABSOLO- Ajang tahunan Solo Batik Carnival (SBC) kembali dihelat di Solo, Jawa Tengah. Penyelenggaraan SBC ke XII tahun ini ber...