sekolah mahal?

Pendidikan, sekolah memang mahal, dan tidak bisa murah… Masalahnya adalah seberapa besar beban pembiayaan pendidikan yang dibebankan kepada peserta didik. Di banyak negara, khususnya di negara yang pemerintahannya mengerti pentingnya pendidikan, pemerintah menanggung sebagian besar beban anggaran penyelenggaraan sekolah, sehingga beban yang ada di peserta didik bisa ringan… Bukan berarti pendidikan itu murah, tapi beban pembiayaan pendidikan tidak sepenuhnya berada di tangan peserta didik.



Dalam sebuah bincang-bincang tentang pendidikan dengan oom Mul (bpk. MM. Purbohadiwijoyo - yang juga seorang pendidik), beliau mengajak saya untuk hitung-hitung besaran gaji guru saat beliau sekolah di jaman belanda dulu. Guru beliau waktu SD adalah seorang yang bergelar doktor di bidang fisika… bukan main-main. Seorang pendidik sejati, ilmuwan yang mendedikasikan dirinya ke pendidikan dasar… Mungkin ini suatu gambaran bahwa pendidikan (dasar) adalah sebetulnya pekerjaan yang perlu ditangani luar biasa serius.



Kembali ke soal hitung-hitungan tadi, ternyata dulu gaji guru oom Mul tersebut kalau sekarang dirupiahkan adalah setara dengan tujuh juta rupiah… Angka yang fantastis… sebuah impian dalam realita penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi itulah gambaran sederhana bahwa sebetulnya pendidikan yang baik itu tidak bisa murah. Dan saya kira hal ini sekarang berlaku di mana-mana… tidak bisa kita mendapatkan sesuatu yang baik dengan harga yang murah…

Sekarang ini, saat saya mencoba berhitung secara ideal untuk pembiayaan sebuah sekolah, dimana satu kelas yang diselenggarakan menampung 25 orang anak dan ditangani oleh 2 orang guru, dimana guru dikompensasi secara cukup baik dalam perhitungan biaya hidup saat ini, ditambah penyediaan fasilitas pembelajaran yang baik (seperti halnya buku-buku perpustakaan, alat-alat bantu pembelajaran, alat peraga yang memadai, mungkin ditambah fasilitas audio visual dan penyelenggaraan outing secara berkala) maka ditambah lagi dengan pengembangan sekolah tersebut, adalah tidak mungkin kita bicara sekolah murah.



Dalam sudut pandang guru, guru yang ideal kita harapkan mampu memfasilitasi proses pembelajaran anak semaksimal mungkin. Maka harus disadari bahwa kita menuntut banyak dari guru tersebut dalam hal kemampuan dan proses pengembangan dirinya, belum lagi masalah dedikasi dan profesionalismenya sebagai guru. Seorang guru tidak bisa tidak harus mendedikasikan waktu dan komitmennya secara penuh dalam proses mempersiapkan diri dan selama mendampingi anak belajar. Tapi realita yang sekarang umumnya terjadi adalah karena tidak memadainya penghasilan guru, pada umumnya mereka mencari tambahan penghasilan dari les-les privat atau dari 'obyekan' lainnya. Ini seharusnya tidak boleh terjadi kalau memang kita ingin performa guru di kelas sehari-hari maksimal adanya. Sederhananya, kita tidak mungkin menuntut banyak kepada para guru kalau kita sendiri tidak bisa memberikan penghargaan yang memadai kepada para guru, (termasuk untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka sendiri secara baik). Kita tidak mungkin menuntut profesionalisme, saat kita tidak bisa atau tidak mau menghargai jasa para guru secara profesional.



Karena faktor rendahnya penghargaan terhadap profesi guru, entah sudah berapa lama profesi guru menjadi profesi yang sangat tidak bergengsi di masyarakat kita. Hampir tidak ada 'orang-orang berkualitas' yang memilih mengambil profesi guru atau pendidik. Mereka lebih suka jadi insinyur atau dokter atau ekonom. Kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang ini mayoritas guru adalah mereka-mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk masuk ke pendidikan tinggi, atau tidak punya alternatif profesi lain sehingga terpaksa menjadi guru. Dengan tidak memperhitungkan buruknya kualitas pendidikan guru di Indonesia, kita punya para guru yang kebanyakan tidak punya jiwa dan dedikasi sebagai pendidik, mereka yang terpaksa menjadi guru. Ditambah rendahnya gaji guru, semua itu berakumulasi dan berakibat rendahnya mutu dunia persekolahan kita.



Yang diuraikan di atas tadi adalah persoalan klasik dunia persekolahan di Indonesia. Terus berulang di setiap generasi, dimana kita selalu saja mendengar ungkapan 'Sekolah itu Mahal'. Tapi saya kira seharusnya hal ini tidak akan banyak dipersoalkan kalau memang dunia persekolahan kita berperan dengan baik dan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya; kalau dunia persekolahan kita berhasil menggali prestasi yang sejati dari para peserta didik. Tetapi hal ini-lah yang justru tidak terjadi. Dan ini adalah masalah pertama. Sekolah kita terlepas dari mahal ataupun murahnya, ternyata belum berhasil berfungsi dengan baik. Yang ada hanyalah filosofi pendidikan yang tidak jelas, arah dan kerangka kurikulum yang tidak menentu, program pembelajaran di sekolah yang semakin menekan anak dan lain sebagainya. Untuk melengkapi kegiatan persekolahan anak, orang tua khususnya di kota-kota besar, harus melengkapi anak dengan berbagai les-les tambahan atau yang parah bahkan membawa anak berkonsultasi ke psikolog karena ketertekanan anak di sekolah. Pendidikan secara tidak langsung akhirnya memang menjadi mahal.



Format Persekolahan Baru
Yang parah, sebelum kita sempat mencari solusi dari isu sekolah mahal tadi, situasi permasalahan justru diperrumit dengan hadirnya format-format baru di dunia persekolahan kita. Sekolah-sekolah baru bermunculan dengan istilah dan kemasan serba mutakhir. Sekolah yang disebut-sebut dengan 'sekolah plus' atau 'sekolah nasional' ataupun lainnya, yang menawarkan pendekatan baru kegiatan persekolahan seperti full-day school ataupun sekolah bilingual dan lain sebagainya…
Disamping itu, bermunculan pula sekolah-sekolah waralaba yang datang dari luar Indonesia. Sekolah-sekolah yang dijual dengan merek dagang impor dan segala atribut yang mengikutinya. Sekolah-sekolah ini sejak dilaunch, ditampilkan serba gemerlap dengan fasilitas serba wah, dengan program-program yang tampaknya luar biasa canggih… Kesemuanya dikemas dalam tampilan promosi dan 'advertising' yang mempesona seperti layaknya komoditi konsumsi lainnya.



Sementara persoalan dunia persekolahan 'tradisional' belum bisa dipecahkan, tanpa sadar masyarakat khususnya di kota-kota besar digiring ke persepsi bahwa munculnya format sekolah-sekolah baru ini adalah solusi dari persoalan dunia persekolahan di Indonesia. Dan karena format-format persekolahan baru ini hampir selalu dibarengi dengan biaya pendidikan yang mahal, bahkan sangat mahal untuk ukuran kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat Indonesia, maka ungkapan 'Sekolah itu Mahal' sepertinya semakin terjustifikasi.



Akhirnya masyarakat seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Kalau mau sekolah yang baik, ya bayarlah malah, ekstra mahal. Dan kalau tidak mampu, ya terimalah sekolah apa adanya, 'sekolah yang biasa' beserta persoalan-persoalan yang mengiringinya selama ini.

Sekolah-sekolah baru ini tidak banyak disadari pada awalnya dikembangkan oleh para pebisnis, yang hampir pasti dilatar-belakangi motivasi bisnis. Apakah betul membawa misi pendidikan atau diarahkan sebagai solusi atas permasalahan dunia persekolahan adalah tanda tanya besar. Rasanya sah juga berpikir bahwa munculnya sekolah-sekolah tadi adalah terutama atas motivasi menghasilkan untuk semata.



Bisnis Pendidikan?
Mencermati sekolah-sekolah baru tadi, muncul satu isu baru mengenai 'bisnis pendidikan'. Istilah ini semakin marak akhir-akhir ini. Tapi kalau kita mencoba kritis, hal ini adalah sesuatu yang sebetulnya menyesatkan. Pendidikan dalam arti sesungguhnya tidak mungkin diselenggarakan atas motivasi bisnis. Karena bisnis dalam pengertian kegiatan usaha selalu berorientasi pada keuntungan yang akan diperoleh pemilik modal atau pemegang saham. Jadi kalau seseorang atau sekelompok orang merintis kegiatan pendidikan untuk memperoleh keuntungan, misi dan selanjutnya kualitas pendidikan boleh sangat dipertanyakan. Karena apapun kemasannya, bisnis selalu berorientasi pada akumulasi keuntungan. Apapun yang dilakukan lembaga ini akan selalu berdasarkan pertimbangan keuntungan. Keuntungan adalah motif utamanya. Sekolah-sekolah ini berdiri di atas landasan kapitalisme.



Di sisi lain, pendidikan yang kita kenal sejak dahulu (sekolah tradisional) adalah gerakan pelayanan. Terlepas dari baik-buruknya kualitas persekolahan kita, dunia persekolahan kita sejak dulu membawa semangat pelayanan, apakah itu yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta.

Akhirnya sekarang, dunia persekolahan tradisional mau tidak mau berhadapan dengan sekolah-sekolah baru yang berorientasi bisnis, dimana kompetisi adalah salah satu kata kunci yang dipegang erat didalamnya. Dan menjadi sangat mengkuatirkan kalau semangat pelayanan mulai sekolah-sekolah kita yang tradisional mulai bergeser ke hal-hal yang berbau bisnis terutama untuk ikut serta dalam arus kompetisi yang semakin intens ini. Sebagai penyedia jasa, memang sekolah-sekolah sangat tergantung pada cara pikir dan perilaku konsumennya. Dan saat ini kelihatannya mulai menjadi sulit bagi sekolah-sekolah tradisional untuk mendapatkan murid saat sekolah-sekolah modern ini sangat fasih memikat masyarakat untuk beralih mengkonsumsi produk-produk mereka (apalagi kita tahu masyarakat kita sifat konsumerismenya semakin lama semakin tinggi).



Penyelenggaraan sekolah, dalam bentuk apapun harus dikelola (dimanage) dengan baik dan harus menghasilkan dana. Dana itu digunakan untuk menutup biaya operasional sekolah (termasuk menggaji dengan layak pengelola dan guru juga menyediakan fasilitas pembelajaran yang baik) dan mempertahankan kesinambungan penyelenggaraan sekolah tersebut. Dititik ini penting disadari bahwa perbedaan sekolah-sekolah tradisional dengan sekolah-sekolah modern adalah dalam hal pengelolaan dana. Sekolah yang bergerak dalam pelayanan pendidikan (seharusnya) memanfaatkan sisa dana untuk pengembangan lanjut program-program pendidikan lainnya. Dana yang terakumulasi kembali dituangkan kembali untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan lainnya.



Bisnis pendidikan, sebaliknya akan membagikan sisa dana kepada pemilik modal atau pemegang saham. Karena bagaimanapun itu adalah tujuan akhirnya. Saat pelayanan pendidikan seharusnya tidak dibatasi dalam kerangka pengembalian investasi, pemilik modal akan berada dalam frame pengembalian investasi (ROI - Return of Investment) sebagaimana halnya bidang usaha lainnya. Bisnis pendidikan sedikit banyak akan mengorbankan banyak hal yang mengurangi keuntungan. Sedangkan pelayanan pendidikan seharusnya memfokuskan pengelolaan dana untuk kepentingan pelayanan dan tidak terpaku dalam kerangka waktu atau pola-pola pengembalian investasi… Pendidikan yang sesungguhnya tidak mungkin digabungkan dengan bisnis, karena bagaimanapun spiritnya berseberangan.



Lalu Bagaimana?
Masih jauh jalan kita mengatasi persoalan dunia persekolahan, yang semakin kisruh dengan perkembangan akhir-akhir ini. Satu-satunya cara mengatasi rumitnya persoalan dunia persekolahan kita saat ini adalah dengan membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat. Dan atas pemahaman tersebut masyarakat akan menjadi kritis dan mampu menentukan pilihannya sendiri. Yang harus melakukannya adalah sekolah-sekolah tradisional ini sendiri. Karena merekalah yang seharusnya faham tentang esensi dunia pendidikan.



Dan dalam situasi ini, sekolah-sekolah tradisionallah yang sedang dalam posisi terancam dan nyaris terseret arus 'bisnis pendidikan' yang menyesatkan masyarakat. Sekolah-sekolah tradisional harus mampu dalam segala keterbatasannya membuktikan semangat pelayanannya dan tidak terseret arus kompetisi bisnis yang akhirnya mengorbankan peserta didik. Tentunya untuk menyikapi situasi ini, sekolah-sekolah tradisional harus belajar lagi supaya mampu berkompetisi dengan cara tidak langsung dan tetap memperjuangkan spirit pelayanan dan esensi pendidikan yang sesungguhnya.







Andy Sutioso

Comments

  1. ANAK JAMAN SEKARANG PAKAIANNYA AMBURADUL APALAGI KELAKUANNYA... GAWAT

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Siswi SMA jadi korban perkosaan hingga hamil

komunitas pehobi airsoft gun

Mantan Brimob jual senjata divonis 10 tahun