Alumni Ngruki Diteror

SOLO-Sejumlah alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Sukoharjo mengaku diteror oleh orang tidak dikenal. Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Front Perlawanan Penculikan (FPP) Kholid Saifullah.

Ditemui di tempat kerjanya di kompleks Gedung Umat Islam, Jl. Kartopuran Nomor 241 Solo, Sabtu (25/7) kemarin, dia mengatakan teror yang dialami sejumlah alumni Ponpes Al Mukmin itu, terkait dengan isu terorisme. "Indikasinya sangat kuat, ada rangkaian yang jelas dari berbagai peristiwa teror yang dialamatkan kepada para alumni," ujar Kholid kemarin.

Dari data yang telah dihimpun, sejak beberapa pekan terakhir, Kholid mengaku sedikitnya ada 15 alumni Ponpes Al Mukmin yang merasa tidak nyaman lantaran menjadadi sasaran teror dari sejumlah oknum yang tidak dia sebutkan identitasnya. "Mereka yang menjadi sasaran teror adalah para alumni angkatan 1991-1999. Teror yang mereka alami tidak hanya sekadar psikis, Melainkan sudah sampai pada tahap fisik," kata dia.

Ditambahkan Kholid, teror yang paling nyata dialami Tamrin Ahmad, warga Grogol, Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus. Dia adalah alumnus angkatan 1991. Pada Kamis (23/7) lalu dia ditabrak mobil yang sejak pagi diketahui mondar-mandir di sekitar rumahnya. Saat kejadian korban yang sehari-hari menjadi pengajar salah satu madrasah dan aktif menjadi penceramah itu hendak menuju Semarang dengan mengendarai sepeda motor.

Sesampai di kawasan Bintoro, Demak, dirinya tiba-tiba dipepet oleh enam orang pengendara sepeda motor jenis tanpa memasang plat nomor. Sementara dari bagian belakang sudah ada mobil yang akhirnya menabrak dirinya. "Mobil tersebut tidak lain adalah mobil yang sejak pagi mondar-mandir di sekitar rumah Tamrin. Selain itu, rombongan keenam pengendara pengendara yang sebelumnya memepetnya jelas bukan orang biasa," kata dia.

Selain di Kudus, Kholid juga mengaku masih ada sejumlah alumni Ngruki yang mengaku merasa tidak nyaman dan didiskriminasikan oleh sejumlah pihak. "Tidak hanya di Kudus, teror tersebut juga dialami para alumni yang masih tinggal di Solo atau asli warga Solo," tandas Kholid.

Selain terus berkoordinasi dengan jaringan Tim Pengacara Muslim di berbagai wilayah, Kholid juga terus mengumpulkan sejumlah keterangan dari para alumni. "Kami masih terus berkoordinasi. Perkara ini akan kami laporkan ke pihak kepolisian. Sebab, beberapa kejadian telah menjurus pada tindakan kriminal," papar Kholid. (in)

Comments

Popular posts from this blog

Siswi SMA jadi korban perkosaan hingga hamil

komunitas pehobi airsoft gun

sekolah mahal?